Pemahaman Sejarah dan Lingkungan Untuk Pengembangan Akuntansi

•January 28, 2009 • Leave a Comment

Sejarah akuntansi memungkinkan akuntan untuk memahami keadaan sekarang dengan lebih baik dan melakukan prakiraan keadaan masa yang akan datang. Sejarah akuntansi memberi pengetahuan kepada akuntan mengenai peristiwa-peristiwa akuntansi yang terjadi pada masa lalu. Berdasarkan pengetahuan tentang peristiwa-peristiwa penting yang telah terjadi akuntan diharapkan dapat memahami mengapa suatu peristiwa terjadi pada saat ini dan meramalkan peristiwa-peristiwa penting yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Penelitian kesejarahan oleh akuntan dapat menghasilkan suatu kesempatan yang berarti untuk studi yang bernilai dan menantang sehingga darinya dapat diharapkan peningkatan kemampuan yang dimiliki akuntan dalam membuat pertimbangan, pemikiran dan penilaian secara lebih luas dan berdasarkan informasi dengan lebih lengkap.

SEJARAH AKUNTANSI

Timbulnya Double Entry Bookkeeping

Pada masa peradaban kuno dalam periode Egyption dan Babylonia (3000 BC s.d 1000 BC), bendahara kerajaan sudah membuat catatan sebagai pertanggungjawaban pada Raja. Demikian pula para pedagang di Babylonia melakukan pencatatan yang sederhana atas penerimaan kepingan tanah liat dan barang yang diterima serta mencatat pengeluaran, pendapatan, pinjaman yang diberikan. Pencatatan yang sederhana juga dilakukan pada periode yang sama oleh orang-orang Yunani dan Roma.

Adanya golongan pedagang pada peradaban kuno menunjukkan sudah ada motivasi individu untuk mencari keuntungan bagi kesejahteraan ekonominya. Motivasi ini diistilahkan capitalistic Spirit yaitu semangat untuk mendapatkan keuntungan. Sejumlah kota menjadi pusat perdagangan pada peradaban kuno antara lain Athena, Somas, dan Vinece. Pada abad pertengahan sejalan dengan perkembangan lingkungan perdagangan bermotivasi capitalistic spirit mengakibatkan pertumbuhan bisnis.

Pada akhir abad ke 13, hubungan Eropa dan Asia menyebabkan timbulnya banyak permintaan baik jenis maupun jumlahnya terhadap produk. Selain itu juga karena pertumbuhan jumlah penduduk, sehingga timbul penawaran tenaga kerja. Keadaan ini menyebabkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Penemuan teknologi baru, yaitu metal, mendorong pengusaha untuk menciptakan produk baru, menambah produk dan lain-lain.

Terdapat tiga dorongan yang membentuk dan mengembangkan usaha yaitu capitalistic spirit, certain economic events dan certain technological innovations. Ketiga dorongan tersebut membentuk social forces.[1]

Pada tahun 1494 dipublikasikan buku pertama double entry book-keeping oleh Luca Pacioli. Buku Luca Pacioli sangat berpengaruh pada pengembangan pengetahuan double entry book-keeping. Buku ini melakukan pencatatan-pencatatan sederhana yang menjadi dasar pengembangan akuntansi.

Pada abad ke 15 kekuatan ekonomi berada di Italia dan Inggris, pemerintah di kedua negara ini mengatur semua kegiatan bisnis. Namun pada abad ke 18 berkembang suatu prinsip baru yaitu ketika Adam Smith mempublikasikan The Wealth of Nation, 1776. Pada masa itu disebut kapitalisme dengan dua karakteristik yaitu profit making dan economic rationally. Keadaan ini dikenal dengan revolusi industri.

Double entry bookkeeping adalah suatu teknologi untuk mendorong perkembangan kapitalisme. Menurut Sombart, terdapat dua alasan mengapa double entry memberi sumbangan dalam pertumbuhan perusahaan yaitu :

1. Double entry bookkeeping harus dipisahkan antara kekayaan pemilik dan usaha.

2. Double entry bookkeeping mengharuskan gambaran lengkap dari aliran modal dalam perusahaan.[2]

Akibat double entry pada economic rationally untuk menghitung produksi dan konsumsi dari faktor produksi, pencatatan diungkapkan dalam satuan moneter, yang dipakai untuk analisis operasi perusahaan dan merumuskan rencana, membantu mengembangkan conceptual framework untuk menjelaskan sifat ekonomi kapitalis. Dengan demikian double entry bookkeeping memberi informasi yang relevan untuk alokasi sumber daya secara efisien untuk pengambilan keputusan.

Perkembangan Akuntansi

Sampai dengan tahun 1755, sangat sedikit literatur yang bersubjek akuntansi, sebagian besar literatur yang ada berupa terjemahan dan adopsi dari buku Luca Pacioli. Perkembangan accountability knowledge di mulai pada masa revolusi industri. Revolusi industri mempunyai tiga aspek. Aspek pertama revolusi industri menyebabkan peralihan dari produksi domestik ke produksi pabrik. Peralihan ini mengakibatkan pertumbuhan ukuran usaha yang memerlukan modal. Aspek kedua adalah munculnya biaya overhead yang membutuhkan alokasi biaya. Aspek ketiga adalah pertumbuhan sektor industri mengantar pada keadaan over capacity, sehingga dibutuhkan manajer yang berkualitas. Semua ini menciptakan permintaan jasa akuntansi.

Revolusi industri memerlukan modal dari pemilik, sehingga tanggung jawab akuntan menjadi meningkat untuk memenuhi kebutuhan pemeriksaan oleh akuntan publik. Pada awal ke 18, akuntansi dititikberatkan pada neraca. Pada tahun 1850 akuntansi mulai dititikberatkan pada laporan rugi laba. Pergeseran dari titik berat neraca kepada laporan rugi laba merupakan akibat tidak langsung dari pertumbuhan sektor industri. Laporan rugi laba mampu memberi informasi mengenai deviden kepada investor yang telah menanamkan modalnya.

Pada tahun 1875 muncul financial auditing di US dan GB yang sebagian besar modal diperoleh dari lembaga keuangan dan bank, mereka menghendaki pemeriksaan terhadapa laporan keuangan. Akibat industrialisasi pada awal abad ke 19 timbul masalah alokasi biaya, sehingga dikembangkan cost accounting, yang terpisah dari akuntansi keuangan. Tahun 1925 muncul goverment accounting dan tax accounting. Setelah perang dunia pemerintah GB, Swedia mengalami kesulitan keuangan, sehingga dikembangkan cara memungut pajak. Pada tahun 1950 berkembangan management accounting karena pada masa itu dibutuhkan informasi-informasi keuangan untuk kepentingan pihak internal dalam proses pembuatan keputusan. Konsep scientific management yang diperkenalkan oleh F. W. Taylor, memberikan peranan yang besar bagi akuntansi dalam pengukuran biaya, keluaran dan evaluasi bagi manajemen sehingga akuntansi berfungsi sebagai alat pengendalian manajemen. Perkembangan selanjutnya pada sekitar tahun tujuhpuluhan muncul management auditing dan social accounting.

Jenis Pendekatan Sejarah

Ahli sejarah seringkali mendefinisikan pekerjaan mereka secara naratif atau interpretasional. Pendekatan naratif akan membentuk dan atau menggambarkan hal-hal pokok pada fakta-fakta yang ada. Sejarah adalah naratif karena merupakan suatu ceritera yang mengakui adanya keterbatasan-keterbatasan di dalamnya yaitu pemahaman manusia terhadap sejarah tidak sepenuhnya seperti apa yang terjadi. Pendekatan interpretasional melakukan evaluasi hubungan-hubungan dan memberikan interpretasi secara ilmu sosial. Pendekatan naratif murni juga harus melakukan penjelasan dan mencari beberapa cara untuk melakukan prediksi.

Pengertian di atas memberikan suatu bentuk perspektif bukan ahli sejarah untuk melakukan penelitian sejarah dalam akuntansi. Orang yang menilai bahwa sejarah tidak begitu bernilai jika mampu membantu dalam menjelaskan suatu fenomena tapi hanya memberi gambaran saja, merupakan orang yang lebih menyukai sejarah interpretasional. Mereka yang mempunyai kesadaran kesejarahan yang tinggi akan menghargai baik sejarah naratif atau sejarah interpretasional akan menambah pengetahuan mengenai masalah-masalah yang kompleks. Setiap jenis pendekatan sejarah mempunyai kelebihan dan kelemahan. Sejarah naratif menyajikan suatu usaha untuk menambah pengetahuan mengenai elemen-elemen yang telah dicapai manusia pada masa lalu untuk menempatkan masalah-masalah yang ada sekarang ke dalam suatu perspektif yang lebih lengkap. Sejarah interpretasional menekankan pada metode-metode penyelidikan ilmiah dan menghubungkannya dengan teliti ke setiap peristiwa penting yang telah terjadi.

Manfaat sejarah akuntansi

Sejarah akuntansi mendukung penelitian pada jamannya baik dalam perumusan kebijakan, praktik maupun penyusunan standar akuntansi. Sejarah mengenalkan kepada akuntan mengenai masalah-masalah, eksperimen-eksperimen, ide-ide, dan individu-individu yang merupakan warisan akuntan pada masa ini. Sejarah memberi informasi mengenai apa yang telah dicapai sampai dengan hari ini. Sejarah akuntansi juga mendorong cara berpikir kita untuk mempertimbangkan pandangan interdisiplin terhadap akuntansi dan dalam konteks lingkungannya. Penggunaan data sejarah yang relevan membutuhkan kesadaran mengenai batasan-batasan yang dimilikinya dan adapatasi yang diperlukan. Pemahaman sejarah akuntansi akan memberikan manfaat sebagai berikut :

1. Materi sejarah akuntansi dalam pendidikan akuntansi akan membantu mahasiswa untuk memberi informasi dan melakukan analisis fakta-fakta yang telah terjadi pada masa lalu.

2. Pemahaman sejarah akuntansi oleh pembuat standar atau kebijakan akuntansi memungkinkan mereka membentuk suatu framework untuk melacak evolusi dan respons akuntansi terhadap perubahan lingkungannya sehingga dapat dibuat standar akuntansi yang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan lingkungan saat itu.

3. Pemahaman sejarah akuntansi bermanfaat bagi para praktisi untuk menentukan praktik-praktik dan metode-metode akuntansi yang baik pada saat ini dan masa yang akan datang.

Pendidikan sejarah akuntansi

Sejarah akuntansi membantu mendekatkan siapa saja yang mempelajari suatu materi akuntansi. Pendidikan formal mengenai sejarah bisnis sebagai suatu bagian materi dalam sekolah bisnis adalah penting karena sejarah bisnis memberi informasi mengenai fakta-fakta yang telah terjadi pada masa lalu. Dalam program doktoral bidang akuntansi, sejarah akuntansi seharusnya menjadi salah satu materi penting untuk lebih memberikan wawasan yang lebih luas kepada mahasiswa mengenai suatu topik akuntansi tertentu. Dengan mempelajari sejarah akuntansi, mahasiswa mempunyai kesempatan melakukan analisis dan interpretasi terhadap perkembangan sejarah teori dan praktik akuntansi pada masa lalu sehingga mereka dapat melakukan penelitian secara lengkap. Penelitian tapa perspektif kesejarahan akan menimbulkan risiko perulangan penelitian-penelitian yang tidak perlu sehingga mengakibatkan pemborosan dana dan waktu. Pengetahuan mengenai sejarah akuntansi memungkinkan mahasiswa untuk melakukan analisis perbandingan suatu topik dari waktu ke waktu.

Sejarah akuntansi sebagai suatu dasar pembuatan standar akuntansi.

Pengetahuan mengenai sejarah akuntansi akan memberikan suatu pengantar pemahaman masalah-masalah akuntansi yang ada sekarang. Pemahaman sejarah akuntansi akan memberikan suatu perspektif untuk membantu para pembuat kebijakan memahami antar hubungan antara keputusan-keputusan kebijakan dan hasil-hasil ekonomi dan politik. Dengan mempelajari sejarah akuntansi dapat dibentuk suatu kerangka kerja untuk melacak evolusi dan respons akuntansi terhadap perubahan lingkungannya sehingga pembuat kebijakan akuntansi dapat membuat standar akuntansi yang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan lingkungan saat itu. Pemahaman sejarah juga memberikan pengetahuan mengenai tema-tema politik dan sosial.

Manfaat pemahaman sejarah akuntansi bagi perbaikan praktik akuntansi

Dengan pengetahuan sejarah akuntansi, para praktisi mendapat tambahan wawasan mengenai praktik-praktik dan metode-metode akuntansi yang digunakan pada masa lalu sebagai dasar untuk menentukan praktik-praktik dan metode-metode akuntansi yang baik pada saat ini dan masa yang akan datang. Perubahan bentuk kegiatan, struktur dan keadaan lingkungan membutuhkan perbaikan dan penyesuaian praktik-praktik dan metode-metode yang digunakan sebelumnya atau mengembangkan praktik atau metode akuntansi yang baru.

Keterbatasan penelitian sejarah

Penelitian-penelitian baik yang naratif maupun interpretasional mempunyai keterbatasan-keterbatasan, yaitu :

1. Sejarah naratif mungkin tidak lengkap karena tidak mengungkapkan seluruh fakta yang penting.

2. Sejarah interpretasional mungkin memerlukan revisi jika asumsi-asumsi dan kesimpulan-kesimpulan dibuat dengan fakta-fakta yang tidak lengkap.

Ketidaklengkapan fakta terjadi disebabkan sejarah berhubungan dengan peristiwa-peristiwa yang kompleks sehingga mungkin terdapat fakta-fakta penting yang tidak diketahui dan tidak tersedia ketika kesimpulan dibuat. Keadaan ini mengakibatkan perlunya dibuat asumsi atau interpretasi berdasarkan asumsi tertentu mengenai keadaan lingkungan, institusional, dan individual. Asumsi-asumsi dan interpretasi-interpretasi yang dibuat dapat bersifat personal tergantung pada pengalaman dan pengetahuan pembuatnya. Asumsi-asumsi dan interpretasi-interpretasi yang bersifat personal atau subjektif dapat memberikan hasil penelitian yang bias dan membatasi objektivitas penelitian.

Keterbatasan pada sejarah interpretasi dapat terjadi karena ketidaklengkapan fakta dan pada analisis yang digunakan untuk menentukan penyebab suatu peristiwa. Peneliti mencari apa yang terjadi dan menjelaskan mengapa peristiwa ini terjadi. Fakta-fakta diseleksi dan diorganisasi melalui proses penilaian yang dibatasi oleh waktu dan persepsi peneliti terhadap suatu variabel dalam periode terjadinya. Sejarah tidak menjelaskan penyebab terjadinya suatu peristiwa dengan pasti tapi dapat menunjukkan faktor-faktor yang mungkin mempengaruhi suatu peristiwa. Analisis terhadap pengaruh faktor-faktor tertentu terhadap suatu peristiwa tidak hanya berupa kemungkinan-kemungkinan saja tapi harus masuk akal. Manfaat sejarah interpretatif tergantung pada apakah interpretasi yang dibuat konsisten dengan fakta yang tersedia.

Lingkungan Akuntansi

Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa perkembangan akuntansi tidak lepas dari lingkungan yang ada disekitarnya. Akuntansi sangat dipengaruhi oleh perubahan sosial, politik, ekonomi dan teknologi. Dalam lingkungan akuntansi terdapat kelompok-kelompok yang mungkin saling berbeda pandangan mengenai informasi yang harus disajikan oleh akuntansi. Kelompok-kelompok yang berkepentingan terhadap akuntansi adalah pemegang saham, kreditur, analisis keuangan, manajemen, auditor, karyawan, pemerintah, akademisi, dan masyarakat. Perbedaan kepentingan yang terjadi misalnya analisis keuangan meminta suatu informasi tertentu tapi tidak disetujui oleh manajemen keuangan untuk diungkapkan.

Permintaan informasi berasal dari para pemakai kepada dua pihak, yaitu :

1. pembuat laporan keuangan, yang bertanggung jawab atas laporan yang diberikan.

2. pembuat kebijakan akuntansi yang menentukan standar akuntansi dan auditing yang harus dipenuhi oleh para pembuat laporan keuangan.

Sedangkan pengembangan teori akuntansi dilakukan bersama-sama oleh pembuat standar, pembuat laporan keuangan, dan pemakai laporan keuangan. Para pemakai membutuhkan teori akuntansi untuk mendukung keandalan informasi yang diterima untuk pembuatan keputusan. Pembuat laporan dan pembuat standar akuntansi menggunakan teori untuk mendukung pilihan-pilihan mereka mengenai apa yang diungkapkan atau apa yang membutuhkan pengungkapan.

Diantara kelompok-kelompok tersebut terjadi konflik kepentingan mengenai bagaimana pengembangan atau timbulnya suatu teori akuntansi. Suatu kelompok mungkin berpendapat bahwa teori akuntansi muncul dari suatu proses usaha ilmiah karena pengaruh-pengaruh lingkungan. Sedangkan kelompok yang lain berpendapat bahwa teori akuntansi dikembangkan untuk memenuhi permintaan individu-individu atau kelompok-kelompok yang menggunakan teori akuntansi untuk mengejar kepentingan mereka. Teori akuntansi seharusnya dikembangkan untuk mencakup semua masalah yang ada dan yang mungkin akan ada, bukannya sekedar mengantisipasi satu masalah yang mungkin timbul.

Faktor lingkungan yang paling cepat mengalami perubahan adalah teknologi. Perkembangan teknologi informasi sangat cepat menuntut akuntansi melakukan penyesuaian. Perkembangan teknologi informasi bukanlah kendala untuk perkembangan akuntansi. Teknologi memacu perkembangan akuntansi dengan kecepatan yang tinggi sehingga terjadi perubahan proses akuntansi secara drastis. Perkembangan teknologi juga mengubah sistem akuntansi dan auditing. Proses akuntansi manual diubah menjadi komputerisasi dengan tingkat kecepatan, kapasitas, dan keakuratan yang sangat tinggi. Akuntansi mampu menghasilkan informasi dengan lebih rinci dan akurat untuk berbagai kebutuhan bisnis baik untuk efisiensi maupun efektivitas usaha.

Akuntansi harus dinamis dan saling berinteraksi dengan lingkungan. Perubahan lingkungan akuntansi harus diantisipasi dengan cepat dan tepat oleh akuntansi. Akuntan harus selalu memperbaharui pengetahuan dan profesionalismenya untuk mengantisipasi dan bahkan berpartisipasi dalam perubahan lingkungan ke arah yang lebih baik dari keadaan sebelumnya.

Kesimpulan

Pemahaman sejarah akuntansi adalah penting untuk menunjang perkembangan akuntansi karena pemahaman sejarah akuntansi akan membantu mahasiswa akuntansi untuk memperoleh dan menganalisis fakta-fakta masa lalu, membantu pembuat standar dan kebijakan akuntansi untuk melacak dan mehamami evolusi dan respon akuntansi terhadap perubahan lingkungannya, membantu para praktisi akuntansi untuk menentukan praktik dan metode akuntansi yang lebih baik untuk saat ini dan masa yang akan datang.

Penelitian kesejarahan mempunyai keterbatasan-keterbatasan, yaitu sejarah naratif mungkin tidak lengkap karena tidak mengungkapkan seluruh fakta yang penting dan sejarah interpretasional mungkin memerlukan revisi jika asumsi-asumsi dan kesimpulan-kesimpulan dibuat dengan fakta-fakta yang tidak lengkap.

Akuntansi harus dinamis dan saling berinteraksi dengan lingkungan. Perubahan lingkungan akuntansi harus diantisipasi dengan cepat dan tepat oleh akuntansi. Teknologi bukanlah kendala bagi perkembangan akuntansi. Perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat sangat membantu akuntansi dalam memberi informasi keuangan secara lebih akurat, cepat, rinci dengan kapasitas yang semakin tinggi. Akuntan harus selalu memperbaharui pengetahuan dan profesionalisme-nya untuk mengantisipasi dan bahkan berpartisipasi dalam perubahan lingkungan ke arah yang lebih baik dari keadaan sebelumnya.

Daftar Pustaka

Bloom, Robert dan Elger, P. T., Accounting Theory & Policy, New York : Harcourt Brace Jovanovich, Inc, 1981.

Most, K. S., Accounting Theory, Ohio : Grid, Inc., 1977.


[1] Vernon Kam, Accounting Theory, Second Edition, (New York : John Wiley and Sons, 1990). p.3.

[2] Ibid. p. 24.

PENINGKATAN PRODUKTIVITAS MELALUI PERUMUSAN BUDAYA (SUATU STUDI KASUS PT GARUDA INDONESIA)

•January 28, 2009 • Leave a Comment

Dalam dua dasa warsa terakhir, masalah budaya menjadi fokus perhatian para pakar dan pemerhati masalah organisasi dan manajemen. Hal ini disebabkan antara lain karena melihat perkembangan kemajuan industri Jepang yang cepat, dalam waktu singkat mampu memasuki pasar di seluruh dunia. Hasil penelitian menunjukkan keunggulan Jepang dalam perindustrian antara lain disebabkan oleh faktor budayanya. Disisi lain, orang Amerika sendiri mengakui bahwa faktor budaya mereka sendirilah yang menyebabkan kalah bersaing di manca negara.

Pascale dan Athas (1981) melihat kemajuan Jepang dari sisi budaya mereka karena mereka lebih mengutamakan “nilai-nilai bersama” dan “sasaran anak buah” daripada perusahaan Amerika. Penulis lain yaitu Peters dan Waterman (1982) dalam buku “In Search of Excellence”, mengemukakan perusahaan-perusahaan Amerika yang terbaik sama saja dengan perusahaan Jepang terbaik. Mereka berhasil karena memiliki budaya perusahaan (Corporate Culture). Jika melihat perusahaan Mc. Donald dimanapun diantara kurang lebih 10.000 restaurantnya baik di Moskow, Idaho, dan Indonesia akan melihat suasana yang akrab, menu umum yang sama dan organisasi yang efisien. Rasa daging manisnya sama dimanapun. Ini adalah contoh kuat dari suksesnya kultur organisasi.

Perbedaan budaya juga mempengaruhi hasil penerapan suatu konsep manajemen pada suatu organisasi atau negara dengan organisasi atau negara lainnya. Management by Objective (MBO) adalah konsepsi manajemen yang diketemukan dan diterapkan di Amerika Serikat dengan berhasil. Akan tetapi setelah Management by Objective diterapkan di negara berkembang dan Indonesia khususnya, ternyata tidak bisa menunjukkan hasil yang memuaskan. Padahal para manajer/pelakunya telah mengikuti pendidikan manajemen sistem Amerika tersebut. Apa sebabnya ?.

Sistem manajemen, strategi usaha, struktur organisasi dan skill memang bisa dibina, diterapkan dan dikembangkan secara rasional. Tetapi leadership style dan share of value cenderung dipengaruhi oleh keputusan dan perilaku emosional. Sedangkan emosi manajer atau karyawan yang terlihat pada sikap dan perilakunya berlatar belakang budaya bangsanya. Dengan kata lain, suatu masalah pokok pada pengelolaan organisasi disuatu negara adalah keterlibatan budaya bangsa di dalam praktek manajemennya. Jadi sifat dan keterampilan manajer terletak pada kekhasan budayanya, oleh karenanya suatu sistem atau falsafah manajemen yang cocok pada suatu negara atau perusahaan belum tentu cocok bagi negara atau perusahaan lain. Sehingga dapatlah dimengerti, bahwa Management by Objective berhasil di Amerika, tetapi kurang berhasil diterapkan di Indonesia karena perbedaan budayanya.

Menurut Gerrt Hofstede, Director of Institute for Research on Interculture Cooperation di Belanda, perbedaan dimensi budaya bangsa Amerika dan Indonesia adalah bangsa Amerika merupakan masyarakat individualis, materialistis dan jarak kekuasaan (power distance) kecil. Sedangkan bangsa Indonesia merupakan masyarakat kolektivistik, feminim dan jarak kekuasaan besar. Akan tetapi di kedua negara “penghindaran ketidakpastian” sama- sama lemah.

Kultur atau lebih tepat corporate culture semakin dicari orang. Gelombang kesadaran baru ini muncul ditengah derasnya arus informasi dan berpacunya kemajuan teknologi. Suatu organisasi yang berhasil membangun budaya perusahaan biasanya dapat dengan segera dikenali ciri khasnya, sekaligus merupakan gaya pembeda dengan perusahaan lain. Sebagai contoh Johnson & Johnson, Yaohan, National Gobel, IBM, Garuda, Mc Donald’s dan sebagainya. Pengusaha yang beranjak besar, umumnya mulai memikirkannya. Mereka sadar, bahwa kultur yang baik akan meningkatkan produktivitasa perusahaan.

Apa itu Budaya Perusahaan ?

Menurut Gregory Moorhead dan Dicky W. Griffin (1992), kultur organisasi atau perusahaan adalah seperangkat nilai yang membantu anggota organisasi mengerti tindakan atas pertimbangan matang dapat diterima dan tindakan mana yang tidak dapat diterima. Definisi lain yang diungkapkan oleh Stephen P. Robbins (1996) bahwa budaya organisasi adalah seperangkat karakteristik pokok nilai nilai organisasi yang menjadi pegangan anggota yang menyebabkan organisasi berbeda dengan yang lainnya (unik).

Penulis lain, Edgar Schein (1981) memberi definisi budaya yaitu suatu perangkat asumsi dasar dimana anggota kelompok menemukan cara untuk memecahkanmasalah dalam menghadapi kelangsungan hidup fisik dalam lingkungan eksternal (adaptasi) dan kelangsungan hidup sosial dalam lingkungan internal. Bila asumsi dasar itu diketemukan, maka ia akan membantu anggota kelompok untuk mencegah atau mengurangi ketakutan. Pemecahan yang telah diketemukan itu akhirnya diregenerisasikan pada generasi berikutnya, sehingga nilai-nilai tersebut tetap berkesinambungan. Masih banyak lagi definisi yang diungkapkan oleh para pakar, dimana secara redaksional mungkin berbeda satu sama lain, namun seperti diungkapkan Moorhead secara umum ada beberapa atribut yang muncul :

1. Semua definisi menunjuk pada satu perangkat nilai sebagai pegangan dalam perusahaan.

2. Nilai-nilai yang menyusun suatu kultur organisasi seringkali diterima sebagai suatu kebenaran.

3. Semua definisi memberi tekanan pada bahasa simbol dalam mengkomunikasikan nilai-nilai organisasi.

Budaya perusahaan seperti diungkapkan Harison (1970) mempunyai fungsi sebagai berikut :

1. Memberikan hasil tujuan dan nilai ke arah mana perusahaan akan diarahkan dan dengan apa kesuksesan serta penghargaan akan diukur.

2. Menentukan hubungan yang bersesuaian antara individu dan organisasi.

3. Memberikan indikasi bagaimana perilaku akan dikendalikan oleh organisasi.

4. Memberikan gambaran kualitas dan karakteristik mana dari anggota organisasi yang akan dinilai baik atau buruk.

5. Menambah atau melengkapi metode yang ada dengan metode yang sesuai untuk menghadapi lingkungan eksternal.

Dengan demikian budaya suatu perusahaan berperan sebagai pembeda dengan perusahaan lain dan memberikan sense of identify pada para anggotanya.

Konsep budaya perusahaan yang kuat, seperti yang telah diungkapkan di atas, dapat diambil dua inti pemikiran yang mendasarinya, yaitu : Konsep pertama, seperti yang diungkapkan oleh Sathe (1985) adalah Centre of Culture. Isi budaya perusahaan berkaitan dengan apa yang dipikirkan, dikatakan, dilakukan dan dirasakan karyawan secara keseluruhan. Dengan kata lain merupakan hasil kesepakatan bersama dalam menentukan pedoman berpikir, berpendapat, bersikap dan berperilaku dalam bekerja. Internalisasi atau tertanamnya berbagai standar dalam organisasi menunjukkan bahwa isi budaya telah diterima dan disepakati dan menjadi bagian dari masing-masing karyawan. Konsep kedua, berkenaan dengan kekuatan budaya perusahaan. Kekuatan budaya dapat ditandai dengan adanya homogenitas dan stabilitas dari anggota organisasi dalam suatu pengalaman bersama yang panjang dan intens. Jika suatu kelompok berhasil mengatasi berbagai masalah yang berhubungan dengan eksistensi perusahaan dalam jangka waktu yang panjang, bervariasi dan berkadar intens, organisasi tersebut dapatlah dikatakan telah berbudaya kuat dan dapat dibedakan dari yang lain.

Perumusan Budaya Pada PT. Garuda Indonesia

Terdapat tiga pelaku pembangunan ekonomi utama Indonesia yaitu : koperasi, swasta dan BUMN. Koperasi sebagai badan usaha yang dimiliki anggotanya jelas berdasarkan kekeluargaan dan bertujuan mencapai kesejahteraan anggotanya. Perusahaan swasta sejak awal pembentukannya, pendiri atau pemilik telah menanamkan falsafah kerja dan misi usahanya sebagai pencari laba sebesar-besarnya. Dengan demikian koperasi dan swasta jelas lebih mudah merumuskan budayanya. Sedangkan BUMN mempunyai nilai ganda yang membuatnya lebih sulit merumuskan budayanya. Misi pertama, sebagai aparatur pembangunan nasional peranan pemerintah sangat dominan. Karena peranannya sebagai pemilik perusahaan, penguasa negara dan seringkali juga sebagai konsumen atau pelanggan produk BUMN. Dilain pihak BUMN juga dituntut bersikap profesional dalam usahanya. Mampu meningkatkan produksi dan daya saing produksi di dalam maupun di luar negeri untuk menghemat dan menghasilkan devisa negara. Dengan kata lain BUMN dituntut untuk mampu mengadaptasi dan menerapkan “budaya industri”. Selain budaya industri dan birokrasi, masih ada unsur lain yang membentuk budaya perusahaan yaitu “budaya asli” yang terdiri dari “budaya tani” dan “budaya kraton” masyarakat Indonesia.

Permasalahan BUMN untuk membuat budaya perusahaan yang kuat menurut Christiawan (1990) adalah membuat keterpaduan yang harmonis tetapi produktif antara unsur-unsur positif dari budaya industri, birokrasi dan budaya asli sehingga perusahaan bisa berjalan mengikuti dinamika usaha yang berubah.

untitledd

 

PT Garuda Indonesia adalah salah satu BUMN yang telah mampu merumuskan budaya perusahaan yang bersumber pada keyakinan dan pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai sumber dari segala sumber budaya, dengan memadukan tiga unsur budaya yaitu industri, birokrasi dan asli dalam rumusan budaya perusahaan.

Dalam usaha memberikan citra yang lebih baik perusahaan yang semula bernama “Garuda Indonesia Airways” berganti nama menjadi PT Garuda Indonesia dan juga pergantian logo pada tahun 1985. Kelanjutan usaha tersebut pada tahun 1988 mulai didengungkan dan disusun serta diperkenalkannya budaya perusahaan pada masa kepemimpinan M Soeparno sebagai direktur utamanya.

Alasan utama PT Garuda Indonesia dalam membutuhkan budaya perusahaan adalah memberikan kesadaran :

1. Bahwa niaga penerbangan menyerap dan menggunakan modal yang sangat besar.

2. Menggunakan tenaga kerja dalam jumlah yang banyak.

3. Menggunakan teknologi tinggi, yang dari tahun ke tahun semakin canggih.

4. Bahwa niaga penerbangan senantiasa menghadapi persaingan yang bertambah keras dari tahun ke tahun.

5. Banyaknya faktor lain diluar kekuasaan yang mempengaruhi kelangsungan hidup perusahaan.

Sasaran yang ingin dicapai dengan budaya perusahaan dengan budaya perusahaan dalam praktek bekerja kehidupan sehari-hari, dirumuskan oleh direktur utamanya dalam sebuah filosofi “Hari ini haruslah diupayakan lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok diupayakan lebih baik dari hari ini”. Ini berarti volume niaga harus bertumbuh, mutu kerja dan kehidupan mesti meningkat.

Dengan filosofi itu PT Garuda Indonesia mengembangkan budaya perusahaan untuk mendukung tercapainya tujuan perusahaan. Tujuan perusahaan secara ringkat dapat dirumuskan “Menjadi perusahaan penerbangan kebanggaan bangsa Indonesia, disukai dan dihormati oleh bangsa lain di dunia “. Adapun rincian rumusan budaya perusahaan PT Garuda Indonesia adalah sebagai berikut :

1. Memproduksi jasa yang bermutu tinggi dan bersaing.

2. Menciptakan kegiatan ekonomi nasional dan menciptakan kesempatan kerja.

3. Menjadikan SDM perusahaan lebih efektif, efisien, produktif, bermotivasi tinggi. Manusi Garuda Indonesia yang dihormati dan disegani pada tingkat kehidupan sehari-hari.r

4. Mengusahakan keuntungan yang bermanfaat bagi pemegang saham yaitu pemerintah dan bangsa Indonesia.

5. Mengamankan serta mengoptimalkan semua sumber daya yang dimiliki perusahaan baik berupa peralatan, permodalan, harta perusahaan untuk kesejahteraan karyawan, keluarga dan banga Indonesia.

Rumusan tersebut di atas kemudian diringkas menjadi semboyan yang diharapkan membangkitkan semangat yaitu Dedicated to excellence dan Corporate solidarity . Dedicated to excellence artinya setiap manusia garuda berupaya bekerja dengan mencapai hasil mutu yang terbaik. Corporate solidarity artinya setiap manusia garuda memupuk dan menumbuhkan semangat kebersamaan atau gotong royong yang luas.

Analisis Budaya Perusahaan

Perumusan budaya perusahaan PT Garuda Indonesia memperhatikan unsur pembentuk budayanya, telah mampu dengan baik memasukkan dan mengharmonisasikan berbagai unsur yaitu budaya industri, asli dan birokrasi. Bila diperhatikan rumusan 1 dan 3 merupakan cerminan nilai-nilai budaya industri yang menuntut efisiensi, efektivitas dan kemampuan daya saing. Rumusan 2 dan 4 mencerminkan nilai-nilai budaya birokrasi yaitu adany tanggung jawab sebagai aparatur pembangunan nasional. Sedangkan rumusan 5 lebih mencerminkan kepada nilai-nilai asli atau tradisional yang mementingkan kebersamaan dan kesejahteraan bersama.

Parson (1951) mengungkapkan beberapa fungsi yang harus nampak agar organisasi dapat bertahan hidup dan berhasil. Fungsi ini ditunjukkan oleh kata AGIL dimana A adalah Adaptation yaitu kemampuan adaptasi atas perubahan keadaan. G adalah Goal Attainment yaitu kemampuan untuk mengartikulasikan dan mencapai tujuan. I adalah Integration yaitu kemampuan untuk mengintegrasikan bagian-bagian yang berbeda dari sistem. L adalah Legitimacy yaitu hak untuk bertahan hidup dan diterima oleh lingkungan. Apabila diteliti dan dikaji lebih jauh. muatan nilai budaya PT Garuda Indonesia dikaitkan dengan fungsi-fungsi yang harus ada menurut Parson adalah AGIL, maka terlihat hubungan sebagai berikut :

Function

Value in Culture

Adaptation

· Memproduksi jasa yang bermutu tinggi dan bersaing

· SDM yang efektif, produktif dan bermotivasi

Goal Attainment

· Menciptakan kegiatan ekonomi nasional dan kesempatan kerja

· Mengusahakan keuntungan bagi pemegang saham

· Dedicated to excellence

Integration

· Corporate solidarity

· Mengoptimalkan penggunaan sumber daya

Legitimacy

· Adanya keuntungan untuk pemegang saham

· Adanya kesejahteraan karyawan, keluarga dan bangsa

Berdasarkan hubungan yang telihat di atas kemampuan perusahaan untuk mengadaptasi perubahan atas perubahan yang terjadi, antara lain dapat terjembatani kepada kemampuan produk yang mampu bersaing dan tenaga kerja yang profesional-efisien, efektif dan bermotivasi tinggi-penentuan tujuan yang jelas-menciptakan kegiatan ekonomi, kesempatan kerja dan keuntungan bagi pemegang saham, telah terumuskan dengan baik dan pencapaiannya melalui dedicated to excellence. Agar terjadi kesatuan langkah dan tindakan bagian-bagian yang ada, maka corporate solidarity dan optimalisasi penggunaan sumber daya perusahaan dicanangkan sedemikian rupa. Dan akhirnya karena adanya keuntungan dan kesejahteraan bagi karyawan, keluarga dan lingkungan maka diharapkan akan diperoleh legitimasi dari lingkungan untuk sistem perusahaan terus berlanjut.

Pada akhirnya, meskipun secara redaksional, perumusan budaya perusahaan PT Garuda Indonesia terlihat baik dan telah mencerminkan serta mampu mengintegrasikan unsur-unsur budaya dan fungsi-fungsi yang dibutuhkan agar perusahaan dapat survive dan sukses. Namun agar benar-benar mampu menjadikan perusahaan mempunyai keunggulan bersaing dan value perusahaan yang meningkat terus, tentunya suatu tantangan tersendiri bagi para manajer perusahaan dan hasilnya waktulah yang akan menjawabnya.

Referensi

Christiawan, Budaya Perusahaan, Falsafah Kerja yang menampilkan Identitas Perusahaan, Majalah Manajemen dan Usahawan Indonesia, Maret 1990.

Moorhead, Gregory and Ricky W. Griffin., Organizational Behavior , Managing People and Organization, Hoghton Miflin Company, 1992.

Robbins, Stephen P. Organizational Behavior, Controversies and Strategy, Prentice Hall Intenational, 1996.

Sutojo, Heru., Pengaruh Budaya terhadap Perkembangan Manajemen di Indonesia, Majalah Manajemen dan Usahawan Indonesia, Maret 1990.

Memahami Budaya Perusahaan, Hubungan Masyarakat PT Garuda Indonesia, 1988.

Budaya Perusahaan Merangsang tumbuhnya knowledge base worker, Majalah Produktivitas, September-Oktober, 1994.

PELAKSANAAN PROSEDUR ANALITIS

•January 28, 2009 • Leave a Comment

Menurut SAS No. 56 (AU 329,02) prosedur analitis adalah "evaluasi informasi keuangan yang dibuat dengan mempelajari hubungan yang logis antar data keuangan maupun nonkeuangan …….meliputi pembandingan jumlah-jumlah yang tercatat atas harapan yang dikembangkan oleh auditor". Definisi tersebut menitikberatkan pada harapan yang dikembangkan oleh auditor dengan mengindentifikasi dan menggunakan hubungan yang logis yang secara pantas diharapkan terjadi berdasarkan pemahaman auditor. Misalnya, auditor mempelajari hubungan antara biaya komisi dan total penjualan kemudian dibandingkan dengan tarif komisi penjualan yang berlaku, untuk menguji kewajaran biaya komisi tahun tersebut. Prosedur analitis ini juga relevan bagi auditor untuk menentukan bahwa penjualan telah dicatat dengan benar, semua penjualan memperoleh komisi, dan bahwa tarif komisi penjualan sesuai dengan yang ditetapkan. Namun bila hasil perbandingan tersebut menunjukkan adanya perbedaan yang luar biasa, hal tersebut memberikan indikasi adanya kesalahan saji atau penyimpangan yang perlu dilakukan investigasi lebih luas. Prosedur analitis juga berguna untuk menduga kondisi keuangan klien dan mengurangi luasnya pengujian-pengujian. Jika hasil pembandingan tidak menunjukkan adanya fluktuasi yang abnormal dapat diartikan bahwa kemungkinan kesalahan dan ketidakberesan sangat kecil sehingga pengujian tidak perlu diperluas.

Prosedur analitis digunakan dalam setiap fase auditing dengan tujuan sebagai berikut :

· Pada fase perencanaan, untuk membantu auditor dalam merencanakan sifat, waktu, lingkup dan prosedur audit.

· Pada fase pengujian, untuk memperoleh bukti mengenai masing-masing asersi yang berhubungan dengan saldo akun atau jenis-jenis transaksi.

Pada kesimpulan audit atau penilaian tahap akhir tentang kewajaran laporan keuangan yang diaudit, sebagai review menyeluruh. Hubungan antar ketiga fase audit dengan tujuan penerapan prosedur analitis nampak pada gambar berikut ini.

prosedir

Prosedur analitis akan dapat membantu auditor dalam perencanaan dengan (1) meningkatkan pemahaman usaha klien, dan (2) indentifikasi hubungan yang tidak umum (luar biasa) dan fluktuasi yang tidak diharapkan yang dapat memberikan indikasi adanya kesalahan saji yang material.

Penggunaan prosedur audit dalam fase perencanaan yang efektif meliputi penyelesaian langkah-langkah sebagai berikut :

· Identifikasi perhitungan/perbandingan yang harus dibuat.

· Menentukan hasil yang akan diharapkan dengan menentukan pembanding.

· Melakukan perhitungan/perbandingan.

· Analisis data dan mengidentifikasi perbedaan yang penting.

· Investigasi perbedaan yang tidak diharapkan (perbedaan yang luar biasa).

· Menentukan pengaruhnya terhadap rencana audit.

Identifikasi perhitungan/perbandingan yang harus dibuat ; adalah menentukan ratio-ratio atau perbandingan yang memenuhi harapan auditor atau sesuai dengan tujuannya. Misalnya auditor ingin mengetahui kemungkinan adanya penyimpangan dalam pemberian komisi penjualan, maka dapat dibuat ratio antar biaya komisi dengan total penjualan yang hasilnya dibandingkan dengan tarif komisi penjualan yang sudah ditetapkan. Kecermatan dan luasnya prosedur analitis yang digunakan dalam perencanaan akan berbeda-beda tergantung atas ukuran dan kerumitan usaha klien, tersedianya data, dan pertimbangan auditor. Jenis perhitungan dan perbandingan yang pada umumnya digunakan antara lain adalah :

· Perbandingan data absolut; adalah pembandingan antara satu jumlah tertentu tahun berjalan, misalnya saldo akun, dengan data anggaran atau prakiraan.

· Persentase per Komponen atau Analisa Vertikal; yaitu dengan menghitung persentasi masing-masing akun terhadap totalnya, misalnya kas terhadap total aktiva, utang usaha terhadap total pasiva. Hasil perhitungan tersebut apabila diperbandingkan dengan data industri dapat memberikan indikasi adanya penyimpangan.

· Analisa Rasio; yaitu perbandingan antara suatu informasi keuangan dengan informasi keuangan yang lain. Hasil perhitungan ini dapat dianalisa secara individu maupun kelompok, misalnya rasio likuiditas, efisiensi, profitabilitas, solvabilitas. Dengan memperbandingkan hasil perhitungan tersebut dengan data rata-rata tahun sebelumnya akan dapat diketahui fluktuasi atau perubahan yang abnormal yang memerlukan investigasi lebih lanjut.

· Analisa kecenderungan atau Trend Analysis; yaitu perbandingan suatu data tertentu untuk beberapa periode akuntansi, baik dalam bentuk absolut, persentase, atau rasio.

Harapan dan Pembanding. Dasar pemikiran atau alasan penggunaan prosedur analitis dalam auditing adalah bahwa hubungan antardata diharapkan dapat memberikan indikasi tentang kondisi yang tidak diketahui. Dasar pemikiran ini digunakan dalam menentukan hasil yang diharapkan dari berbagai sumber, baik data dari internal maupun eksternal yang bersifat historis maupun prakiraan. Berikut adalah contoh sumber informasi yang digunakan sebagai pembanding dalam mengembangkan harapan :

A. Informasi keuangan periode sebelumnya yang dapat diperbandingkan dengan memperhatikan perubahan yang diketahui.

B. Hasil yang diantisipasi; misalnya anggaran atau prakiraan, termasuk ekstrapolasi dari data interim atau tahunan.

C. Hubungan antara unsur-unsur informasi keuangan dalam suatu periode.

D. Informasi industri tempat klien berusaha, misalnya informasi tentang laba bruto.

E. Hubungan informasi keuangan dengan informasi nonkeuangan yang relevan.

Dalam semua hal, dapat dipercayainya dan kecocokan atau keserasian data yang digunakan untuk mengembangkan harapan harus dipertimbangkan. Misalnya data tahun lalu yang sudah diaudit lebih dapat dipercaya dari pada data yang tidak diaudit. Dapat tidaknya data anggaran sebagai pembanding tergantung pada anggapan atau asumsi yang digunakan dalam penyusunan anggaran. Manfaat data industri tergantung pada tingkat kesesuaian antara operasi perusahaan dan metode akuntansi dari industri tersebut. Jadi penggunaan data industri sebagai pembanding mempunyai keterbatasannya, misalnya adanya perbedaan metode depresiasi atau metode penilaian persediaan yang digunakan oleh klien berbeda dengan yang digunakan oleh industri pada umumnya.

Pelaksanaan Perhitungan/Pembandingan. Dalam langkah perhitungan termasuk pengumpulan data yang diperlukan dalam perhitungan perbedaan jumlah absolut dan persentase per komponen, data rasio, termasuk juga perolehan data industri yang akan digunakan sebagai pembanding. Dalam melakukan perhitungan dan pembandingan biasanya digunakan alat pembantu, misalnya kalkulator atau komputer.

Analisa Data dan Menentukan Perbedaan Penting. Dalam menganalisa perhitungan dan pembandingan, diperlukan pemahaman terhadap usaha klien. Misalnya dalam pembadingan data perusahaan tahun berjalan dengan tahun sebelumnya akan dapat membantu auditor dalam memahami pengaruh kejadian dan keputusan penting terhadap laporan keuangan klien, dari pada dengan data industri karena adanya karakteristik tertentu pada perusahaan klien. Sebagai pedoman dalam analisa data adalah mengindentifikasi fluktuasi yang tidak diharapkan atau tidak adanya fluktuasi yang diharapkan yang merupakan indikasi atau tanda-tanda semakin besarnya risiko salah saji. Hal yang paling sulit dalam tahap analisa adalah menentukan besarnya perbedaan atau fluktuasi yang memerlukan tindakan investigasi lebih lanjut. Dalam penentuan besarnya perbedaan atau fluktuasi ada yang menggunakan model statistik, namun ada pula yang menggunakan rumus-rumus sederhana misalnya perbedaan yang melebihi : (1) jumlah rupiah tertentu yang telah ditetapkan; (2) suatu persentase tertentu; (3) kombinasi antara keduanya (jumlah rupiah dan persentase).

Investigasi Perbedaan yang Tidak Diharapkan. Adanya perbedaan atau fluktuasi yang tidak diharapkan atau yang luar biasa diinvestigasi dengan mempertimbangkan kembali metode dan faktor yang digunakan dalam mengembangkan harapan, dan wawancara dengan manajemen. Kadang-kadang informasi baru akan mendukung perlunya revisi terhadap harapan yang telah dibuat. Jika penjelasan mengenai perbedaan tersebut tidak diperoleh, auditor harus menentukan pengaruhnya terhadap perencanaan auditnya.

Menentukan Pengaruhnya Terhadap Rencana Audit. Adanya perbedaan yang penting yang tidak dapat dijelaskan merupakan indikasi meningkatnya risiko salah saji dalam satu atau beberapa akun yang masuk dalam perhitungan atau perbandingan. Dalam beberapa hal, auditor biasanya merencanakan untuk melakukan pengujian lebih rinci terhadap akun-akun tersebut. Dengan perhatian auditor langsung pada daerah yang risikonya lebih besar, berarti prosedur analitis dapat pelaksanaan audit yang lebih efektif dan efisien.

Manfaat Prosedur Analitis dan Permasalahannya

Libby menemukan bahwa berdasarkan pengalaman akuntan mengidentifikasi dari kemungkinan besar terjadinya kesalahan ditemukan melalui fluktuasi data laporan keuangan dalam proses penelaahan analitis.[1]

Penelitian Biggs et al memberikan fakta bahwa manajer kantor akuntan publik dan akuntan senior mampu mengidentifikasi problem pemeriksaan yang krusial, tetapi manajer kantor akuntan publik memiliki kemampuan yang lebih tinggi dari akuntan senior dalam mengidentifikasi kekeliruan dan hubungan yang kompleks di antara bukti penelaahan analitis dan perubahan programan pemeriksaan.[2]

Cohen dan Kida lebih lanjut menguraikan hasil penelitiannya terhadap sample 96 akuntan The Big Eight, bahwa penelaahan analitis memberikan efek sangat besar atas pertimbangan manajer dibandingkan terhadap pertimbangan akuntan senior. Juga kebanyakan akuntan enggan mengurangi pengujian walaupun hasil penelaahan analitis mengisyaratkan tidak ada problem pemeriksaan yang memerlukan perhatian khusus. Mereka juga menemukan fakta bahwa prosedur penelaahan analitis merupakan variabel yang paling signifikan bagi manajer dan manajer lebih berpengalaman menggunakan prosedur penelaahan analitis dibandingkan dengan akuntan senior. Akuntan senior lebih sering mengadakan evaluasi pengawasan (pengendalian) intern, karena realibilitas pengawasan intern merupakan variabel yang paling signifikan baginya.3

Demikian juga penelitian yang dilakukan oleh Heiman terhadap akuntan dari dua kantor akuntan publik The Big Eigth, menyatakan bahwa secara keseluruhan hasil penelitian ini dapat dijadikan petunjuk untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pemeriksaan melalui penerapan prosedur analitis. Prosedur analitis dianggap sebagai suatu proses diagnostik, meliputi evaluasi atas hipotesis yang dibuat atas terjadinya perubahan-perubahan yang tidak biasa pada laporan keuangan klien, informasi ini sangat diperlukan akuntan.4 Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Wilson dan Colbert mengungkapkan bahwa prosedur analitis meliputi perbandingan jumlah yang tercatat di dalam laporan keuangan dengan jumlah yang diharapkan oleh akuntan. Perbandingan ini membantu akuntan dalam mengambil keputusan yang cukup beralasan atas jumlah-jumlah yang ditunjukkan dalam laporan keuangan. Hasil penelitian ini menganjurkan penggunaan model keputusan yang lebih tepat untuk memungkinkan penyajian jumlah yang diharapkan lebih teliti dan keputusan akuntan lebih efisien.5

Anjuran ini sejalan dengan kesimpulan penelitian Wild dan Biggs, bahwa metode prosedur analitis menghasilkan penaksiran jumlah yang lebih akurat dan lebih dapat dipercaya, serta risiko pemeriksaanpun dapat dikurangi.6 Walaupun masih terdapat kontroversi yang berpusat kepada penerapan prosedur analitis, karena masih ada data atau informasi keuangan setelah tanggal neraca. Tetapi terdapat beberapa argumentasi mengapa digunakan data nilai buku sebagai dasar pembuatan prosedur analitis, antara lain disebabkan bertambahnya risiko pemeriksaan dan pelanggaran independensi pemeriksaan akuntan. Selain itu juga, temuan utama dari Knechel menyatakan bahwa (1) penggunaan informasi saldo bulanan perkiraan laporan keuangan dalam penelaahan kritis lebih efektif dibandingkan dengan menggunakan saldo tahunan saja selama keandalan sistem akuntansi klien masih dalam taraf minimal, dan (2) penelaahan analitis non statistik digabungkan dengan sampling unit moneter ($) relatif dapat menambah efektivitas pemeriksaan dibandingkan dengan strategi pemeriksaan yang tidak menggunakan penelaahan kritis.7 Kemudian penelitian Coglitore dan Berryman memaparkan hasil, bahwa prosedur analitis lebih efektif dalam mendeteksi informasi keuangan material yang menyesatkan (misleading). Aplikasi prosedur analitis dalam penyusunan rencana pemeriksaan akan membantu untuk mendeteksi penghasilan yang terlalu tinggi (overstatement), piutang dagang dan penjulan fiktif, penyisihan piutang ragu-ragu, utang dagang yang tidak tercatat, dan utang biaya komisi yang terlalu rendah/kurang saji (understatement).8

Menurut SAS No. 56 (AU 329,02) prosedur analitis adalah "evaluasi informasi keuangan yang dibuat dengan mempelajari hubungan yang logis antar data keuangan maupun nonkeuangan …….meliputi pembandingan jumlah-jumlah yang tercatat atas harapan yang dikembangkan oleh auditor". Definisi tersebut menitikberatkan pada harapan yang dikembangkan oleh auditor dengan mengindentifikasi dan menggunakan hubungan yang logis yang secara pantas diharapkan terjadi berdasarkan pemahaman auditor. Misalnya, auditor mempelajari hubungan antara biaya komisi dan total penjualan kemudian dibandingkan dengan tarif komisi penjualan yang berlaku, untuk menguji kewajaran biaya komisi tahun tersebut. Prosedur analitis ini juga relevan bagi auditor untuk menentukan bahwa penjualan telah dicatat dengan benar, semua penjualan memperoleh komisi, dan bahwa tarif komisi penjualan sesuai dengan yang ditetapkan. Namun bila hasil perbandingan tersebut menunjukkan adanya perbedaan yang luar biasa, hal tersebut memberikan indikasi adanya kesalahan saji atau penyimpangan yang perlu dilakukan investigasi lebih luas. Prosedur analitis juga berguna untuk menduga kondisi keuangan klien dan mengurangi luasnya pengujian-pengujian. Jika hasil pembandingan tidak menunjukkan adanya fluktuasi yang abnormal dapat diartikan bahwa kemungkinan kesalahan dan ketidakberesan sangat kecil sehingga pengujian tidak perlu diperluas.

Prosedur analitis digunakan dalam setiap fase auditing dengan tujuan sebagai berikut :

· Pada fase perencanaan, untuk membantu auditor dalam merencanakan sifat, waktu, lingkup dan prosedur audit.

· Pada fase pengujian, untuk memperoleh bukti mengenai masing-masing asersi yang berhubungan dengan saldo akun atau jenis-jenis transaksi.

Pada kesimpulan audit atau penilaian tahap akhir tentang kewajaran laporan keuangan yang diaudit, sebagai review menyeluruh. Hubungan antar ketiga fase audit dengan tujuan penerapan prosedur analitis nampak pada gambar berikut ini.

untitled

 

Prosedur akan dapat membantu auditor dalam perencanaan dengan (1) meningkatkan pemahaman usaha klien, dan (2) indentifikasi hubungan yang tidak umum (luar biasa) dan fluktuasi yang tidak diharapkan yang dapat memberikan indikasi adanya kesalahan saji yang material.

Penggunaan prosedur audit dalam fase perencanaan yang efektif meliputi penyelesaian langkah-langkah sebagai berikut :

· Identifikasi perhitungan/perbandingan yang harus dibuat.

· Menentukan hasil yang akan diharapkan dengan menentukan pembanding.

· Melakukan perhitungan/perbandingan.

· Analisis data dan mengidentifikasi perbedaan yang penting.

· Investigasi perbedaan yang tidak diharapkan (perbedaan yang luar biasa).

· Menentukan pengaruhnya terhadap rencana audit.

Identifikasi perhitungan/perbandingan yang harus dibuat ; adalah menentukan ratio-ratio atau perbandingan yang memenuhi harapan auditor atau sesuai dengan tujuannya. Misalnya auditor ingin mengetahui kemungkinan adanya penyimpangan dalam pemberian komisi penjualan, maka dapat dibuat ratio antar biaya komisi dengan total penjualan yang hasilnya dibandingkan dengan tarif komisi penjualan yang sudah ditetapkan. Kecermatan dan luasnya prosedur analitis yang digunakan dalam perencanaan akan berbeda-beda tergantung atas ukuran dan kerumitan usaha klien, tersedianya data, dan pertimbangan auditor. Jenis perhitungan dan perbandingan yang pada umumnya digunakan antara lain adalah :

· Perbandingan data absolut; adalah pembandingan antara satu jumlah tertentu tahun berjalan, misalnya saldo akun, dengan data anggaran atau prakiraan.

· Persentase per Komponen atau Analisa Vertikal; yaitu dengan menghitung persentasi masing-masing akun terhadap totalnya, misalnya kas terhadap total aktiva, utang usaha terhadap total pasiva. Hasil perhitungan tersebut apabila diperbandingkan dengan data industri dapat memberikan indikasi adanya penyimpangan.

· Analisa Rasio; yaitu perbandingan antara suatu informasi keuangan dengan informasi keuangan yang lain. Hasil perhitungan ini dapat dianalisa secara individu maupun kelompok, misalnya rasio likuiditas, efisiensi, profitabilitas, solvabilitas. Dengan memperbandingkan hasil perhitungan tersebut dengan data rata-rata tahun sebelumnya akan dapat diketahui fluktuasi atau perubahan yang abnormal yang memerlukan investigasi lebih lanjut.

· Analisa kecenderungan atau Trend Analysis; yaitu perbandingan suatu data tertentu untuk beberapa periode akuntansi, baik dalam bentuk absolut, persentase, atau rasio.

Harapan dan Pembanding. Dasar pemikiran atau alasan penggunaan prosedur analitis dalam auditing adalah bahwa hubungan antardata diharapkan dapat memberikan indikasi tentang kondisi yang tidak diketahui. Dasar pemikiran ini digunakan dalam menentukan hasil yang diharapkan dari berbagai sumber, baik data dari internal maupun eksternal yang bersifat historis maupun prakiraan. Berikut adalah contoh sumber informasi yang digunakan sebagai pembanding dalam mengembangkan harapan :

A. Informasi keuangan periode sebelumnya yang dapat diperbandingkan dengan memperhatikan perubahan yang diketahui.

B. Hasil yang diantisipasi; misalnya anggaran atau prakiraan, termasuk ekstrapolasi dari data interim atau tahunan.

C. Hubungan antara unsur-unsur informasi keuangan dalam suatu periode.

D. Informasi industri tempat klien berusaha, misalnya informasi tentang laba bruto.

E. Hubungan informasi keuangan dengan informasi nonkeuangan yang relevan.

Dalam semua hal, dapat dipercayainya dan kecocokan atau keserasian data yang digunakan untuk mengembangkan harapan harus dipertimbangkan. Misalnya data tahun lalu yang sudah diaudit lebih dapat dipercaya dari pada data yang tidak diaudit. Dapat tidaknya data anggaran sebagai pembanding tergantung pada anggapan atau asumsi yang digunakan dalam penyusunan anggaran. Manfaat data industri tergantung pada tingkat kesesuaian antara operasi perusahaan dan metode akuntansi dari industri tersebut. Jadi penggunaan data industri sebagai pembanding mempunyai keterbatasannya, misalnya adanya perbedaan metode depresiasi atau metode penilaian persediaan yang digunakan oleh klien berbeda dengan yang digunakan oleh industri pada umumnya.

Pelaksanaan Perhitungan/Pembandingan. Dalam langkah perhitungan termasuk pengumpulan data yang diperlukan dalam perhitungan perbedaan jumlah absolut dan persentase per komponen, data rasio, termasuk juga perolehan data industri yang akan digunakan sebagai pembanding. Dalam melakukan perhitungan dan pembandingan biasanya digunakan alat pembantu, misalnya kalkulator atau komputer.

Analisa Data dan Menentukan Perbedaan Penting. Dalam menganalisa perhitungan dan pembandingan, diperlukan pemahaman terhadap usaha klien. Misalnya dalam pembadingan data perusahaan tahun berjalan dengan tahun sebelumnya akan dapat membantu auditor dalam memahami pengaruh kejadian dan keputusan penting terhadap laporan keuangan klien, dari pada dengan data industri karena adanya karakteristik tertentu pada perusahaan klien. Sebagai pedoman dalam analisa data adalah mengindentifikasi fluktuasi yang tidak diharapkan atau tidak adanya fluktuasi yang diharapkan yang merupakan indikasi atau tanda-tanda semakin besarnya risiko salah saji. Hal yang paling sulit dalam tahap analisa adalah menentukan besarnya perbedaan atau fluktuasi yang memerlukan tindakan investigasi lebih lanjut. Dalam penentuan besarnya perbedaan atau fluktuasi ada yang menggunakan model statistik, namun ada pula yang menggunakan rumus-rumus sederhana misalnya perbedaan yang melebihi : (1) jumlah rupiah tertentu yang telah ditetapkan; (2) suatu persentase tertentu; (3) kombinasi antara keduanya (jumlah rupiah dan persentase).

Investigasi Perbedaan yang Tidak Diharapkan. Adanya perbedaan atau fluktuasi yang tidak diharapkan atau yang luar biasa diinvestigasi dengan mempertimbangkan kembali metode dan faktor yang digunakan dalam mengembangkan harapan, dan wawancara dengan manajemen. Kadang-kadang informasi baru akan mendukung perlunya revisi terhadap harapan yang telah dibuat. Jika penjelasan mengenai perbedaan tersebut tidak diperoleh, auditor harus menentukan pengaruhnya terhadap perencanaan auditnya.

Menentukan Pengaruhnya Terhadap Rencana Audit. Adanya perbedaan yang penting yang tidak dapat dijelaskan merupakan indikasi meningkatnya risiko salah saji dalam satu atau beberapa akun yang masuk dalam perhitungan atau perbandingan. Dalam beberapa hal, auditor biasanya merencanakan untuk melakukan pengujian lebih rinci terhadap akun-akun tersebut. Dengan perhatian auditor langsung pada daerah yang risikonya lebih besar, berarti prosedur analitis dapat pelaksanaan audit yang lebih efektif dan efisien.

Manfaat Prosedur Analitis dan Permasalahannya

Libby menemukan bahwa berdasarkan pengalaman akuntan mengidentifikasi dari kemungkinan besar terjadinya kesalahan ditemukan melalui fluktuasi data laporan keuangan dalam proses penelaahan analitis.[1]

Penelitian Biggs et al memberikan fakta bahwa manajer kantor akuntan publik dan akuntan senior mampu mengidentifikasi problem pemeriksaan yang krusial, tetapi manajer kantor akuntan publik memiliki kemampuan yang lebih tinggi dari akuntan senior dalam mengidentifikasi kekeliruan dan hubungan yang kompleks di antara bukti penelaahan analitis dan perubahan programan pemeriksaan.[2]

Cohen dan Kida lebih lanjut menguraikan hasil penelitiannya terhadap sample 96 akuntan The Big Eight, bahwa penelaahan analitis memberikan efek sangat besar atas pertimbangan manajer dibandingkan terhadap pertimbangan akuntan senior. Juga kebanyakan akuntan enggan mengurangi pengujian walaupun hasil penelaahan analitis mengisyaratkan tidak ada problem pemeriksaan yang memerlukan perhatian khusus. Mereka juga menemukan fakta bahwa prosedur penelaahan analitis merupakan variabel yang paling signifikan bagi manajer dan manajer lebih berpengalaman menggunakan prosedur penelaahan analitis dibandingkan dengan akuntan senior. Akuntan senior lebih sering mengadakan evaluasi pengawasan (pengendalian) intern, karena realibilitas pengawasan intern merupakan variabel yang paling signifikan baginya.3

Demikian juga penelitian yang dilakukan oleh Heiman terhadap akuntan dari dua kantor akuntan publik The Big Eigth, menyatakan bahwa secara keseluruhan hasil penelitian ini dapat dijadikan petunjuk untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pemeriksaan melalui penerapan prosedur analitis. Prosedur analitis dianggap sebagai suatu proses diagnostik, meliputi evaluasi atas hipotesis yang dibuat atas terjadinya perubahan-perubahan yang tidak biasa pada laporan keuangan klien, informasi ini sangat diperlukan akuntan.4 Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Wilson dan Colbert mengungkapkan bahwa prosedur analitis meliputi perbandingan jumlah yang tercatat di dalam laporan keuangan dengan jumlah yang diharapkan oleh akuntan. Perbandingan ini membantu akuntan dalam mengambil keputusan yang cukup beralasan atas jumlah-jumlah yang ditunjukkan dalam laporan keuangan. Hasil penelitian ini menganjurkan penggunaan model keputusan yang lebih tepat untuk memungkinkan penyajian jumlah yang diharapkan lebih teliti dan keputusan akuntan lebih efisien.5

Anjuran ini sejalan dengan kesimpulan penelitian Wild dan Biggs, bahwa metode prosedur analitis menghasilkan penaksiran jumlah yang lebih akurat dan lebih dapat dipercaya, serta risiko pemeriksaanpun dapat dikurangi.6 Walaupun masih terdapat kontroversi yang berpusat kepada penerapan prosedur analitis, karena masih ada data atau informasi keuangan setelah tanggal neraca. Tetapi terdapat beberapa argumentasi mengapa digunakan data nilai buku sebagai dasar pembuatan prosedur analitis, antara lain disebabkan bertambahnya risiko pemeriksaan dan pelanggaran independensi pemeriksaan akuntan. Selain itu juga, temuan utama dari Knechel menyatakan bahwa (1) penggunaan informasi saldo bulanan perkiraan laporan keuangan dalam penelaahan kritis lebih efektif dibandingkan dengan menggunakan saldo tahunan saja selama keandalan sistem akuntansi klien masih dalam taraf minimal, dan (2) penelaahan analitis non statistik digabungkan dengan sampling unit moneter ($) relatif dapat menambah efektivitas pemeriksaan dibandingkan dengan strategi pemeriksaan yang tidak menggunakan penelaahan kritis.7 Kemudian penelitian Coglitore dan Berryman memaparkan hasil, bahwa prosedur analitis lebih efektif dalam mendeteksi informasi keuangan material yang menyesatkan (misleading). Aplikasi prosedur analitis dalam penyusunan rencana pemeriksaan akan membantu untuk mendeteksi penghasilan yang terlalu tinggi (overstatement), piutang dagang dan penjulan fiktif, penyisihan piutang ragu-ragu, utang dagang yang tidak tercatat, dan utang biaya komisi yang terlalu rendah/kurang saji (understatement).8

Penutup

Prosedur analitis merupakan upaya yang harus ditempuh oleh auditor dalam melakukan pelaksanaan dan perencanaan auditnya atas suatu klien. Prosedur ini didasarkan pada pertimbangan profesi dan keaadaan. Prosedur analitis yang tepat akan dapat membuktikan ketelitian pembukuan dan kelayakan penyajian laporan keuangan. Melalui prosedur analitis dapat identifikasi beberapa penyimpangan yang terjadi dalam laporan keuangan klien, seperti salah saji yang terlalu besar atau salah yang terlalu rendah.

Prosedur analitis dapat digunakan untuk (1)mengevaluasi sistem pengendalian intern , dan(2) meningkatkan efisiensi dan efektivitas pemeriksaan, serta menghasilkan penaksiran jumlah yang lebih akurat dan lebih dapat dipercaya, serta dapat mengurangi risiko pemeriksaan.

Dalam pelaksanaannya agar dapat diperoleh hasil yang cukup memuaskan, prosedur analitis dilakukan terhadap informasi saldo bulanan dari akun laporan keuangan, dan digabungkan dengan audit sampling moneter.

DAFTAR PUSTAKA

1. Arens, Alvin A, James K. Loebbecke. Auditing : An Integrated Approach. Fifth Edition. Englewood Cliffs : Prentice Hall, 1991.

2. Biggs, Stanley F.et al., “Auditor ‘s User of Analytical Review in Auditing Program Design”, The Accounting Review, Vol. LXIII, No. 1 (Florida : AAA, January 1988). pp. 149 – 159.

3. Kell, Walter, William C. Boynton. Modern Auditing. Sixth Edition. New York : John Wiley & Sons, 1996.

4. Coglitore, Frank dan R. Glen Berryman,”Analytical Procedures : A Defensive Necessity”,Auditing : A Journal of Practice and Theory, Vol. 7. No. 2 (New York : AAA, Spring 1988). pp. 150.

5. Cohen, Jeffrey dan Thomas Kida.,”The Impact of Analytical Review Results, Internal Control Realibility, and Experience on Auditing User of Analytical Review”, Journal Accounting Research, Vol. 27, No. 2, Autumn, 1989.pp. 264 – 275.

6. Heiman, Vicky B.,”Auditor’s Assessment of The Likehood of Error Explanations in Analytical Review”,The Accounting Review, Vol. 65, No. 4, October 1990, pp. 875 – 890.

7. Knechel. Robert,”Effectiveness of Non Statistical Analytical Review Procedures Used as a Substantive Audit Tests”, Auditing : A Journal of Practice and Theory, Vol. 8. No. 1 (New York : AAA, Fall 1988). pp. 87 – 106.

8. Libby, Robert., Availability and The Generation of Hypotheses in Analytical Review, Journal Accounting Research Vol 23, No. 2. (Chicago : The Institute of Profesional Accounting Graduate School of Bussiness University of Chicago, Autumn, 1985). pp. 663 – 664.

9. Wild, J.J. dan S.F Biggs,” Strategic Considerations for Audited Account Values in Analytical Review”, The Accounting Review, Vol. 65, No. 1 (Florida : AAA, January 1990). pp. 228 – 240.

10. Wilson, Arlette C. dan Janet Colbert,”An Analysis of Simple and Rigorous Decision Models as Analytical Procedures”, Accounting Horizons, (Florida : AAA, December 1989) . pp. 79 – 83.

11. Arens, Alvin A, James K. Loebbecke. Auditing : An Integrated Approach. Fifth Edition. Englewood Cliffs : Prentice Hall, 1991.

12. Biggs, Stanley F.et al., “Auditor ‘s User of Analytical Review in Auditing Program Design”, The Accounting Review, Vol. LXIII, No. 1 (Florida : AAA, January 1988). pp. 149 – 159.

13. Kell, Walter, William C. Boynton. Modern Auditing. Sixth Edition. New York : John Wiley & Sons, 1996.

14. Coglitore, Frank dan R. Glen Berryman,”Analytical Procedures : A Defensive Necessity”,Auditing : A Journal of Practice and Theory, Vol. 7. No. 2 (New York : AAA, Spring 1988). pp. 150.

15. Cohen, Jeffrey dan Thomas Kida.,”The Impact of Analytical Review Results, Internal Control Realibility, and Experience on Auditing User of Analytical Review”, Journal Accounting Research, Vol. 27, No. 2, Autumn, 1989.pp. 264 – 275.

16. Heiman, Vicky B.,”Auditor’s Assessment of The Likehood of Error Explanations in Analytical Review”,The Accounting Review, Vol. 65, No. 4, October 1990, pp. 875 – 890.

17. Knechel. Robert,”Effectiveness of Non Statistical Analytical Review Procedures Used as a Substantive Audit Tests”, Auditing : A Journal of Practice and Theory, Vol. 8. No. 1 (New York : AAA, Fall 1988). pp. 87 – 106.

18. Libby, Robert., Availability and The Generation of Hypotheses in Analytical Review, Journal Accounting Research Vol 23, No. 2. (Chicago : The Institute of Profesional Accounting Graduate School of Bussiness University of Chicago, Autumn, 1985). pp. 663 – 664.

19. Wild, J.J. dan S.F Biggs,” Strategic Considerations for Audited Account Values in Analytical Review”, The Accounting Review, Vol. 65, No. 1 (Florida : AAA, January 1990). pp. 228 – 240.

20. Wilson, Arlette C. dan Janet Colbert,”An Analysis of Simple and Rigorous Decision Models as Analytical Procedures”, Accounting Horizons, (Florida : AAA, December 1989) . pp. 79 – 83.


[1] Robert Libby., Availability and The Generation of Hypotheses in Analytical Review, Journal Accounting Research Vol 23, No. 2. (Chicago : The Institute of Profesional Accounting Graduate School of Bussiness University of Chicago, Autumn, 1985) pp. 663 – 664.

[2] Stanley F. Biggs .et al., “Auditor ‘s User of Analytical Review in Auditing Program Design”, The Accounting Review, Vol. LXIII, No. 1 (Florida : AAA, January 1988) pp. 149 – 159.

3 Jeffrey Cohen dan Thomas Kida.,”The Impact of Analytical Review Results, Internal Control Realibility, and Experience on Auditing User of Analytical Review”, Journal Accounting Research, Vol. 27, No. 2, Autumn, 1989.pp. 264 – 275.

4 Vicky B. Heiman,”Auditor’s Assessment of The Likehood of Error Explanations in Analytical Review”,The Accounting Review, Vol. 65, No. 4, October 1990, pp. 875 – 890.

5 Arlette C. Wilson dan Janet Colbert,”An Analysis of Simple and Rigorous Decision Models as Analytical Procedures”, Accounting Horizons, December 1989. pp. 79 – 83. (Florida : AAA)

6 J.J. Wild dan S.F Biggs,” Strategic Considerations for Audited Account Values in Analytical Review”, The Accounting Review, Vol. 65, No. 1 (Florida : AAA, January 1990). pp. 228 – 240.

7 W. Robert Knechel,”Effectiveness of Non Statistical Analytical Review Procedures Used as a Substantive Audit Tests”, Auditing : A Journal of Practice and Theory, Vol. 8. No. 1 (New York : AAA, Fall 1988). pp. 87 – 106.

8 Frank Coglitore dan R. Glen Berryman,”Analytical Procedures : A Defensive Necessity”, Auditing : A Journal of Practice and Theory, Vol. 7. No. 2 (New York : AAA, Spring 1988). pp. 150.


[1] Robert Libby., Availability and The Generation of Hypotheses in Analytical Review, Journal Accounting Research Vol 23, No. 2. (Chicago : The Institute of Profesional Accounting Graduate School of Bussiness University of Chicago, Autumn, 1985) pp. 663 – 664.

[2] Stanley F. Biggs .et al., “Auditor ‘s User of Analytical Review in Auditing Program Design”, The Accounting Review, Vol. LXIII, No. 1 (Florida : AAA, January 1988) pp. 149 – 159.

3 Jeffrey Cohen dan Thomas Kida.,”The Impact of Analytical Review Results, Internal Control Realibility, and Experience on Auditing User of Analytical Review”, Journal Accounting Research, Vol. 27, No. 2, Autumn, 1989.pp. 264 – 275.

4 Vicky B. Heiman,”Auditor’s Assessment of The Likehood of Error Explanations in Analytical Review”,The Accounting Review, Vol. 65, No. 4, October 1990, pp. 875 – 890.

5 Arlette C. Wilson dan Janet Colbert,”An Analysis of Simple and Rigorous Decision Models as Analytical Procedures”, Accounting Horizons, December 1989. pp. 79 – 83. (Florida : AAA)

6 J.J. Wild dan S.F Biggs,” Strategic Considerations for Audited Account Values in Analytical Review”, The Accounting Review, Vol. 65, No. 1 (Florida : AAA, January 1990). pp. 228 – 240.

7 W. Robert Knechel,”Effectiveness of Non Statistical Analytical Review Procedures Used as a Substantive Audit Tests”, Auditing : A Journal of Practice and Theory, Vol. 8. No. 1 (New York : AAA, Fall 1988). pp. 87 – 106.

8 Frank Coglitore dan R. Glen Berryman,”Analytical Procedures : A Defensive Necessity”, Auditing : A Journal of Practice and Theory, Vol. 7. No. 2 (New York : AAA, Spring 1988). pp. 150.

PENGARUH PUBLIKASI LAPORAN KEUANGAN TAHUNAN TERHADAP HARGA DAN VOLUME PERDAGANGAN SAHAM DI BEJ TAHUN 1998

•January 28, 2009 • Leave a Comment
ABSTRACT

Publication of annual financial reports is a means of information presented for investor to make decisions on their investment.

This research is designed as an empirical research intended to find out the market reaction, resulting from the publication of the annual financial reports.

The market reaction is shown form the abnormal return and abnormal volume calculated based on the market approach. The sample is selected through judgement sampling of 36 active shares and liquid traded at Jakarta Stock Exchange between 1997 and 1998, with daily data covering shares prices, composite index, shares volume listed and traded.

The research methodology utilized is event study with estimation period of 110 days and window period of 21 days around the date of publication of the annual financial reports.

The assessment of the hypotesis though parametric and non-parametric statisitics significantly showed that the publication of the annual financial reports influenced the prices and volume of shares trading. The assessment also showed that Jakarta Stock Exchange fulfiled the form of semi strong form efficient market for 1998.

Key words : Annual financial reports; Abnormal returns; Abnormal volume

PENDAHULUAN

Laporan keuangan dapat menyajikan informasi yang relevan dengan model keputusan yang digunakan oleh investor dalam membuat keputusan buy, hold, atau sell saham. Penelitian yang dilakukan oleh Chang, Most, dan Brain (1983) menunjukkan pentingnya laporan keuangan tahunan perusahaan sebagai suatu informasi untuk keputusan investasi.

Informasi yang disediakan oleh akuntansi, ialah informasi keuangan mengenai kondisi keuangan dan hasil usaha suatu perusahaan, yang dapat digunakan oleh para pemakainya sesuai kepentingan masing-masing. Para pemakai informasi akuntansi yang dimaksud, ialah pemilik perusahaan, pemasok, investor, kreditor, manajemen, pemerintah, dan anggota masyarakat lainnya. Di antara pemakai informasi akuntansi (laporan keuangan) yang disebutkan di atas pemakai yang paling berkepentingan ialah investor dan kreditor. Ini berarti, informasi akuntansi yang disajikan melalui media laporan keuangan lebih difokuskan untuk memenuhi kebutuhan investor dan kreditor dibandingkan dengan pemakai ekstern lainnya.

Banyak buku literatur diantaranya Jones (1996) menyatakan pasar modal dalam bentuk efisien berkenaan dengan suatu sistem informasi, dimana harga saham secara penuh merefleksikan sistem informasi tersebut. Dalam pasar yang efisien, harga bereaksi dengan cepat terhadap informasi yang relevan. Informasi baru tersebut kemudian akan masuk ke dalam dan membentuk harga sekuritas, dengan demikian tidak akan diperoleh keuntungan abnormal yang konsisten.

Pendapat Epps dan Epps yang dikutip dari Byung T (1981) menyatakan jika informasi akuntansi dari perusahaan mampu mempengaruhi pengharapan investor atas prospek suatu usaha, maka tentunya akan menimbulkan ketidakseimbangan sementara dalam pasar modal. Ketidakseimbangan ini akan menyebabkan investor melakukan pembelian dan penjualan saham untuk memaksimalkan kepuasannya.

Suad Husnan et. al (1994), memberikan bukti empiris bahwa nampaknya laporan keuangan dipergunakan oleh investor dalam kegiatan perdagangan di Bursa Efek Jakarta. Kegiatan perdagangan relatif pada hari pengumuman laporan keuangan lebih tinggi dibandingkan dengan kegiatan di luar pengumuman laporan keuangan. Antisipasi investor terhadap laporan keuangan sudah terlihat sebelum pengumuman laporan keuangan. Laporan keuangan bulan Desember mempunyai dampak yang lebih besar dibandingkan laporan keuangan bulan Maret terhadap perdagangan relatif.

Jika investor di Indonesia sadar bahwa dia dapat memperoleh abnormal return dari investasinya dengan memanfaatkan informasi publik maka tentunya investor akan memanfaatkan informasi tersebut untuk memaksimalkan kepuasannya. Jadi informasi publik akan mempengaruhi pengambilan keputusan investor. Tindakan yang diambil oleh investor dengan adanya publikasi laporan keuangan akan tercermin pada tingkat fluktuasi harga saham dan volume perdagangan saham setelah publikasi laporan keuangan.

Berdasarkan latar belakang masalah yang diuraikan di atas, masalah pokok dalam penelitian ini ialah : apakah laporan keuangan tahunan mempunyai kandungan informasi ? Dengan kata lain apakah informasii akuntansi yang diterbitkan mempengaruhi harga dan volume perdagangan saham ?

Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan secara empirik bahwa :

1. Informasi laporan keuangan tahunan bermanfaat dan mempunyai pengaruh terhadap perubahan harga dan volume perdagangan saham di pasar modal.

2. Dengan melakukan pengamatan perubahan harga saham dan volume perdagangan di sekitar waktu diterbitkannya laporan keuangan tahunan, penelitian ini juga bertujuan untuk membuktikan efisiensi Bursa Efek Jakarta dalam menyerap informasi akuntansi yang masuk dalam pasar.

TINJAUAN TEORITIS

Review Penelitian Terdahulu

Penelitian manfaat informasi akuntansi di sekitar pengumuman laporan keuangan studi pendahuluan mengenai pengumuman laporan keuangan dilakukan oleh Ball & Brown (1968) di New York Stock Exchange dengan sampel 261 saham perusahaan dan periode studi tahun 1946 – 1966 untuk melihat pengaruh perubahan informasi laba terhadap perilaku investor, yang diukur dengan tingkat abnormal return saham. Perubahan laba diklasifikasikan atas perubahan positif (berita baik) dan penurunan laba (berita buruk). Hasil penelitiannya ialah memang terdapat hubungan antar informasi tentang perubahan laba dan aliran kas dan abnormal return saham. Setelah laporan tahunan dipublikasikan, indeks harga saham menjadi mendatar dari bulan ke nol sampai bulan ke 6, yaitu harga sepenuhnya telah bereaksi atas seluruh informasi laba, sehingga tidak dapat diandalkan lagi sebagai pedoman perdagangan yang menguntungkan. Reaksi pasar atas laporan tahunan tampaknya hanya sedikit bahkan tidak ada, sehingga dilihat dari segi pasar laporan tahunan tidak relevan dan tidak memberikan informasi baru di dalamnya.

Beaver (1968) menguji pengaruh kandungan informasi dari laporan keuangan terhadap volume transaksi dan pergerakkan harga saham. Periode studi tahun 1961 – 1965 dan digunakan sampel 143 perusahaan ; dengan hasilnya ialah volume transaksi meningkat secara drastis disekitar tanggal pengumuman, tetapi terjadi transaksi dibawah normal selama 8 minggu sebelum pengumuman. Perubahan harga terjadi pada saat minggu pengumuman (minggu nol), yaitu meningkat sebesar 67% dibandingkan rata-rata non report period dan perubahan volume perdagangan meningkat sebesar 33% dibandingkan rata-rata non period report.

Morse (1981) melakukan penelitian terhadap reaksi harga dan volume perdagangan saham di seputar pengumuman laba. Sampel yang digunakan dalam penelitiannya adalah 25 saham yang terdaftar di pasar modal (20 saham di NYSE dan 5 saham ASE) dan 25 saham yang diperdagangakan di OTC. Data yang digunakan meliputi data harga dan volume perdagangan saham selama kurun waktu 4 tahun dari tahun 1973 hingga 1976. Periode jendela yang digunakan dalam mengamati perubahan harga dan volume perdagangan yaitu 15 hari sebelum dan sesudah pengumuman laba. Hasil penelitian menunjukkan perubahan harga dan volume perdagangan secara signifikan terjadi satu hari sebelum pengumuman hingga pada saat diumumkannya Wall Streets Journal.

Bamber (1987) melakukan penelitian terhadap reaksi pasar setelah publikasi laba tahunan selama kurun waktu 1977-1979. Penelitian dilakukan terhadap publikasi laba tahunan dari 279 perusahaan yang dipilih secara random dari Value Line Investment Survey. Reaksi pasar dilihat dari ada tidaknya unexpected earning maupun volume transaksi yang di atas normal. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya reaksi pasar atas publikasi laba dan ada hubungan yang positif antara unexpected trading volume dengan besarnya unexpected earning.

Bamber juga (1989) melakukan penelitian reaksi pasar setelah publikasi laba kuartalan dengan metode yang hampir sama. Data yang digunakan adalah 900 publikasi laba kuartalan dari 195 perusahaan selama kurun waktu 1977 – 1989. Hasil penelitian ini juga menunjukkan adanya reaksi pasar setelah publikasi laba kuartalan. Bamber juga berhasil menunjukkan bahwa nilai absolut dari unexpected earnings berhubungan dengan besarnya, lamanya unexpected trading volume.

Stice (1991) meneliti efisiensi pasar terhadap laba yang tercantum dalam 10-K dan 10-Q. Sampel penelitian yang digunakan adalah 342 perusahaan yang menyerahkan 10-K dan 10-Q ke SEC paling lambat 4 hari sebelum laba tahunan dipublikasikan melalui The Wall Street Journal. Dalam melihat signifikan tidaknya unexpected earning dan unexpected trading volume digunakan asymptotic standard normal distribution. Penelitian Stice menunjukkan adanya reaksi setelah publikasi laba tahunan melalui The Wall Street Journal. Jadi metode publikasi ternyata mempengaruhi apakah suatu informasi akan segera tercermin pada harga saham.

Cready dan Mynatt (1991) meneliti dan menginterpretasikan respon pasar saham di sekitar tanggal penerbitan laporan tahunan. Sampel penelitian yang digunakan adalah 320 perusahaan yang dipilih secara random dengan kurun waktu tahun 1981 – 1983. Penelitian Cready membuktikan laporan tahunan digunakan oleh investor di dalam membuat keputusan investasi dan laporan tahunan mempunyai manfaat sosial bagi investor. Respon perdagangan saham terhadap laporan tahunan nampak relatif lama hingga 7 hari setelah tanggal laporan.

Abdelsalam dan Satin (1991) meneliti pengaruh publikasi laporan keuangan perusahaan terhadap volume perdagangan saham pada suatu thin market. Sampel penelitian yang digunakan adalah 28 perusahaan untuk tahun 1985 dan 20 perusahaan untuk tahun 1986. Sampel dikelompokkan dalam 4 sektor yaitu keuangan, industri, jasa dan pertanian selain itu kelompokkan juga ke dalam kelompok laba naik dan turun serta dikelompokan pula ke dalam kelompok deviden naik, tetap, dan turun. Hasil penelitiannya menunjukkan penerbitan laporan keuangan tahunan mempunyai pengaruh yang cukup kecil terhadap volume perdagangan saham.

Husnan et. Al (1996) meneliti dampak pengumuman laporan keuangan terhadap kegiatan perdagangan saham dan variabilitas tingkat keuntungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laporan keuangan tampaknya dipergunakan investor dalam kegiatan perdagangan di Bursa Efek Jakarta. Kegiatan perdagangan relatif pada hari pengumuman laporan keuangan lebih tinggi dibandingkan dengan kegiatan di luar pengumuman laporan keuangan. Laporan keuangan tidak mempunyai pengaruh yang berarti terhadap variabilitas tingkat keuntungan untuk bulan Desember tetapi untuk bulan Maret pengatuh tersebut signifikan dengan melihat perbedaan yang signifikan antara periode sebelum dengan sesudah laporan keuangan. Hasil ini disebabkan karena laporan keuangan bulan Maret memberikan informasi baru yang mengakibatkan ketidakpastian yang lebih tinggi dibandingkan laporan keuangan Desember.

Tujuan dan Keterbatasan Informasi Akuntansi

Paton dan Littleton menyatakan kebutuhan akuntansi di dunia bisnis disebabkan oleh adanya pemisahan pemilik perusahaan dengan pengelola perusahaan. Sehingga akuntansi yang berawal dari pencatatan dan penyajian untuk pemilik menjadi alat pertanggungjawaban pada absentee investor. Selain itu, mereka menyatakan penyajian informasi akuntansi juga menyangkut pertanggungjawaban perusahaan (terlebih perusahaan besar) kepada pihak-pihak selain investor, seperti karyawan, pelanggan, pemerintah, dan masyarakat luas. Dengan landasan pemikiran demikian, Patton dan Littleton menyimpulkan :

The purpose of accounting is to furnish financial data concerning a bussiness enterprise, compiled and presented to meet the need of management, investor, and the public (1970, hal.1).

FASB melalui APB No. 4 menyatakan bahwa :

Accounting is a service activity. It’s function is to provide quantitative information, primarily financial in nature, about economic entities that is intended to be useful in making economic decisions in making reasoned choices among alternative course of action (1970, par.40).

Lebih lanjut lagi FASB menyatakan bahwa tujuan akuntansi keuangan dan laporan keuangan adalah :

To provide quantitative financial information about a bussiness enterprise that is useful to statement users, particularly owners and creditors, in making economic decisions (1970, par. 73).

FASB menyatakan bahwa fungsi informasi akuntansi adalah sebagai alat bantu untuk pengambilan keputusan, laporan keuangan harus berperan lebih dari sekedar alat pertangggungjawaban.

Melalui SFAC No.1, FASB kembali menekankan pentingnya informasi akuntansi untuk membantu pengambilan keputusan ekonomi dan bisnis. Dalam SFAC No. 1 diuraikan tujuan pelaporan keuangan adalah :

Should provide information that is useful to present and potential investors and creditors and other users in making rational investment, credit, and similar decisions; (1970, par. 34)

Should provide information to help present and potential investors and creditors and other users in assessing the amounts, timing, and uncertainty of prospective cash receipts from devidens or interest and the proceeds from sale, redemption, or maturity of securities or loans; (1970, par. 37)

Should provide information about the economic resources of an enterprise, the claims to those resources (obligations of the enterprise to transfer resources to other entities and owners equity), and the effect of transactions, events, and circumtances that change its resources and claims to those resources (1970, par. 40).

Perlu diketahui bahwa pelaporan keuangan tidak sama dengan laporan keuangan. Laporan keuangan (financial statement) adalah salah satu jenis dari pelaporan keuangan (financial reporting).

Dari uraian mengenai tujuan akuntansi dan pelaporan keuangan di atas, dapat disimpulkan agar laporan keuangan yang mereka audit dapat menjadi alat yang berguna untuk keputusan investasi di pasar modal.

Dengan usaha memahami kebutuhan pemakai informasi supaya laporan keuangan benar-benar bermanfaat bagi para partisipan dalam pasar modal, FASB merumuskan karakteristik kualitatif yang harus dimiliki oleh suatu laporan keuangan. Dalam APB No. 4 (1970, par. 87-94) diuraikan 7 tujuan kualitatif yang mesti melekat pada laporan keuangan supaya berguna untuk pengambilan keputusan. Ketujuh karakteristik tersebut adalah : relevan (tujuan kualitatif yang utama), dapat dimengerti (understandability), dapat diverifikasi (verifiability), netral (neutrality), ketepatan waktu (timeliness), daya banding (comparability), dan kelengkapan (completeness)

Melalui SFAC No. 1, FASB menyatakan bahwa untuk dapat berguna bagi pengambilan keputusan, informasi akuntansi harus memiliki karakteristik utama yaitu relevan dan reliable. Informasi yang relevan adalah informasi yang mempunyai nilai prediksi, nilai umpan balik, dan disajikan tepat waktu. Sementara informasi yang dapat diandalkan adalah informasi yang verifiable, netral dan mampu menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Selain itu harus dipertimbangkan juga manfaat dan biayanya serta daya banding dan materialitas dari informasi yang bersangkutan.

Menurut Foster (1986, hal. 76), suatu informasi bermanfaat jika informasi tersebut mempunyai makna bagi pemakainya. Ada 3 faktor yang mempengaruhi makna dari penyajian informasi, yaitu :

· Ekspektasi pasar modal mengenai makna dan waktu dari penyajian informasi.

· Implikasi dari informasi yang disajikan terhadap distribusi return di masa yang akan datang.

· Kredibilitas sumber informasi.

Akuntan publik sebagai penilai kewajaran laporan keuangan berperan untuk meningkatkan kredibilitas laporan keuangan tersebut.

Informasi akuntansi melalui laporan keuangan hanyalah salah satu jenis informasi yang diperlukan oleh investor. Namun laporan keuangan memiliki keunggulan komparatif dibandingkan informasil lain, karena :

· Lebih berhubungan langsung dengan variabel-variabel yang diperlukan.

· Sumber informasi yang cukup dapat diandalkan, sebab dilaksanakannya audit atas laporan keuangan oleh auditor.

· Sumber informasi yang tersedia dengan biaya rendah bagi investor dan masyarakat.

· Cukup tepat waktu. (Foster, 1986, hal. 10)

Perlu diketahui, ada keterbatasan yang melekat pada informasi akuntansi, seperti termuat dalam SFAC No. 1 (1978, par. 17-23), yaitu :

· Lebih banyak menyajikan informasi keuangan, tidak mengungkapkan informasi non keuangan.

· Informasi yang disediakan lebih memusatkan pada perusahaan sebagai individu, tidak menyajikan informasi mengenai industri dan perekonomian secara keseluruhan.

· Informasi lebih banyak dihasilkan dari taksiran.

· Informasi terbatas pada informasi masa lalu.

· Hanya salah satu sumber informasi bagi investor.

· Ada biaya untuk menggunakan dan menyajikan informasi akuntansi.

Pasar Modal Efisien

Sebelum membicarakan bentuk-bentuk pasar yang efisien (efficient markets forms) terlebih dahulu akan dijelaskan pengertian dari pasar yang efisien (efisien market). Pada dasarnya terdapat dua jenis efisiensi pasar modal, yaitu efisiensi internal dan efisiensi eksternal. Efisiensi pasar modal merupakan salah satu indikator untuk menentukan kualitas suatu pasar modal (Reilly[ 1989, hal. 75-76]). Semakin tinggi derajat efisiensinya, maka pasar modal tersebut akan semakin baik.

Pasar modal akan semakin memiliki efisiensi internal apabila biaya transaksi dalam perdagangan sekuritas semakin rendah. Jadi efisiensi ini dikaitkan dengan besarnya biaya untuk melakukun pembelian atau penjualan sekuritas. Sementara itu derajat efisiensi eksternal akan ditentukan oleh kecepatan penyesuaian harga sekuritas di pasar modal, terhadap informasi baru. Dengan kata lain, apabila harga sekuritas-sekuritas di pasar modal mencerminkan semua informasi yang ada (dan berhubungan dengan sekuritas-sekuritas tersebut), maka pasar modal akan memiliki efisiensi eksternal yang semakin tinggi. Dari pengertian efisiensi eksternal tersebut, maka bisa disimpulkan bahwa jenis efisiensi ini akan dikaitkan dengan informasi. Artinya, efisiensi pasar modal akan diukur secara informasional. Pembahasan selanjutnya akan difokuskan pada jenis efisiensi ini.

Foster (1986, hal. 301-303) mengemukakan beberapa faktor yang diduga mampu mempengaruhi efisiensi pasar modal, serta karakteristik dari konsep pasar modal efisien. Efisiensi pasar modal diduga akan dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut : (1) Tingkat persaingan antar analis sekuritas di pasar modal, (2) Jumlah analisis yang melakukan penilaian terhadap sekuritas-sekuritas di pasar modal, dan (3) Kuantitas dan kualitas informasi yang diterbitkan oleh emiten.

Sementara itu karakteristik-karakteristik dari konsep pasar modal adalah : (1) Proses penentuan efisiensi pasar modal akan berhubungan dengan variabel-variabel pasar agregat (aggregate market variables), seperti harga sekuritas dan tingkat keuntungan sekuritas, (2) Konsep pasar modal efisien memusatkan perhatian pada hubungan ex-ante (yang sudah terjadi) antara distribusi tingkat keuntungan sekuritas dengan isi dari berbagai informasi yang ada, dan (3)Penentuan efisiensi pasar modal akan dikaitkan dengan informasi-informasi. Derajat efisinesi pasar modal akan ditentukan oleh jenis informasi yang digunakan dalam penilaian efisiensi pasar modal tersebut.

Berdasarkan jenis informasi yang digunakan sebagai dasar penilaian maka efisiensi pasar modal dapat digolongkan ke dalam tiga bentuk atau tingkatan, yaitu efisiensi bentuk lemah (weak form efficiency), efisiensi bentuk setengah kuat (semi-strong form efficiency), dan efisiensi bentuk kuat (strong form efficiency).

Hipotesa Pasar Efisien

Analisis terhadap harga saham di pasar modal hanya mungkin memberikan hasil yang akurat bila pasar modal itu sendiri dalam keadaan efisien. Bila harga saham ditentukan hanya sekelompok pelaku pasar tertentu, maka harga tersebut tentu bukan merupakan harga yang wajar, yang merupakan hasil perimbangan permintaan dan penawaran. Pendekatan analisis dengan menggunakan informasi pasar yang efisien disebut pendekatan manajemen investasi pasif (passive management – investment approach) (Foster[1986, hal.311]).

Konsep pasar efisien menyatakan bahwa dalam pasar modal yang efisien, harga saham merefleksikan seluruh informasi relevan yang terserdia. Jones (1996, hal. 269) menyebutkan definisi pasar modal efisien sebagai berikut :

An efficient markets (EM) is one in which the prices of all securities quickly and fully reflect all available information about the assets.

Definisi tersebut terdiri dari 3 inti pengertian , yaitu : fully reflect berarti bahwa harga sekarang suatu saham berkaitan dengan seluruh informasi yang diketahui di dalam harga, termasuk bukan hanya informasi masa lalu tetapi juga informasi sekarang beserta kejadian-kejadian yang sudah diumumkan namun masih transparan, quickly and accurately para pemodal akan menerima informasi yang akurat dalam waktu secepat mungkin melalui media informasi apa saja, contohnya di Amerika Serikat informasi penting akan diterima oleh para pemodal paling satu hari setelah tanggal pengumuman. Accurately tidak berarti bahwa penyesuaian harga harus sempurna, melainkan tidak bias artinya nilai yang diharapkan dari kekeliruan penyesuaian (adjustment error) adalah nol. Konsep ini tidak mengharuskan terjadi harga keseimbangan baru (new equilibrium price) melainkan hanya suatu estimasi yang tidak bias mengenai harga keseimbangan baru setelah para pemodal memasukkan seluruh informasi tersebut ke dalam analisis mereka.

Suatu pasar modal dikatakan efisien bila memenuhi beberapa syarat. Jones mengemukakan beberapa syarat sebagai berikut :

1. Terdapat sejumlah besar pemodal rasional, sebagai price takers, yang secara aktif berpartisipasi dalam menganalisis, menilai, dan memperdagangkan saham.

2. Informasi dapat diperoleh dengan murah (costless) dan tersedia secara luas bagi para partisipan pasar dalam waktu yang hampir bersamaan.

3. Informasi disebarkan secara acak.

4. Pemodal bereaksi secara cepat dan akurat terhadap informasi baru, sehingga harga saham juga bereaksi secara cepat dan akurat. (Jones[1996, hal 270])

Bentuk Pasar Modal yang Efisien

Pasar modal yang efisien didefinisikan sebagai pasar modal yang harga sekuritas-sekuritasnya mencerminkan semua informasi yang relevan. Berdasarkan informasi yang tersedia pada suatu pasar modal tingkat efisiensi pasar modal dapat dibagi dalam 3 bentuk, yaitu : bentuk lemah (weak form), bentuk setengan kuat (semi strong form) dan bentuk kuat (strong form). Pengurutan tingkat efisiensi pasar modal tersebut dilakukan berdasarkan sifat informasi yang dibagi dalam informasi masa lampau, informasi yang dipublikasikan, dan informasi yang belum dipublikasikan (inside trading).

Weak form efficiency (efisiensi bentuk lemah)

Suatu pasar modal dikatakan efisien dalam bentuk lemah bila harga pasar saham dalam pasar modal tersebut merefleksikan secara penuh semua informasi harga di masa lalu. Dalam pasar modal yang efisien bentuk lemah, para pemodal tidak akan mampu memperoleh abnormal return dengan menggunakan trading rules berdasarkan atas informasi harga di waktu yang lalu. Keadaan ini disebut sebagai pola harga masa lalu, dikarenakan harga saham bersifat acak. Penelitian tentang random walk menunjukkan bahwa sebagian besar pasar modal di negara berkembang masih berada pada bentuk lemah.

Jenis informasi yang digunakan sebagai dasar penilai efisiensi bentuk lemah adalah rangkaian perubahan harga histori sekuritas. Jadi pengujian bentuk lemah berusaha mengetahui apakan semua informasi yang terkandung dalam harga historis sekuritas, tercermin seluruhnya dalam harga sekuritas saat ini.

Semi form efficiency (efisiensi bentuk semi kuat)

Tingkat efisiensi kedua adalah di mana harga-harga bukan hanya mencerminkan harga-harga di waktu yang lalu, tetapi semua informasi yang dipublikasikan. Keadaan ini disebut sebagai bentuk efisiensi setengah kuat. Dengan kata lain, para pemodal tidak bisa memperoleh tingkat keuntungan di atas normal dengan memanfaatkan public information. Para peneliti telah menguji keadaan ini dengan melihat peristiwa-peristiwa tertentu seperti, penerbitan saham baru, pengumuman laba dan deviden, perkiraan tentang laba perusahaan, perubahan praktek-praktek akuntansi, merger, dan pemecahan saham. Kebanyakan informasi-informasi ini dengan cepat dan tepat dicerminkan dalam harga saham.

Berbeda dengan pengujian bentuk lemah, maka pengujian bentuk setengah kuat akan menguji apakah informasi-informasi yang tersedia bagi publik lainnya (selain harga historis sekuritas), juga tercermin dalam harga sekuritas saat ini. Jadi pengujian bentuk setengah kuat akan dikaitkan dengan semua informasi publik yang ada.

Strong form efficiency (efisiensi bentuk kuat)

Bentuk efisiensi yang kuat menyatakan bahwa tidak ada satupun informasi yang tersedia baik bagi publik maupun privat yang mengizinkan para pemodal untuk meraih keuntungan yang tidak normal secara konsisten. Bentuk ini menyatakan bahwa harga saham akan melakukan penyesuaian secara cepat terhadap informasi apapun, bahkan informasi yang tidak tersedia bagi semua pemodal (informasi privat) dimana harga tidak hanya mencerminkan semua informasi yang dipublikasikan, tetapi juga informasi yang bisa diperoleh dari analisa fundamental tentang perusahaan dan perkonomian.

Dalam keadaan semacam ini di pasar modal harga saham selalu wajar dan tidak investor yang mampu memperoleh perkiraan yang lebih baik tentang harga saham. Kebanyakan pengujian dalam bentuk ini dilakukan terhadap prestasi berbagai portfolio yang dikelola secara profesional. Studi-studi ini menunjukkan bahwa setelah mempertimbangkan perbedaan risiko, tidak ada suatu lembagapun yang mampu mengungguli pasar secara konsisten dan bahkan perbedaan prestasi masing-masing portfolio tidaklah lebih besar dari apa yang kita harapkan secara kebetulan. Bentuk efisiensi yang kuat bersifat agak ekstrim sehingga belum diterima secara menyeluruh.

Pengujian bentuk kuat berusaha mengetahui apakah semua informasi yang ada, baik yang sudah dipublikasikan maupun yang belum (private information), tercermin dalam harga sekuritas saat ini. (Elton dan Gruber[1991, hal. 339]). Beberapa penulis lain, seperti Fama (1970) hanya menghubungkan pengujian bentuk kuat dengan private information.

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini dirancang sebagai suatu penelitian empirik dengan menggunakan event study. Untuk dapat mengetahui reaksi pasar modal dalam hal ini : apakah terdapat abnormal return dan abnormal volume yang dihasilkan sehubungan dengan publikasi laporan keuangan tersebut, maka dalam penelitian ini digunakan periode estimasi selama 110 hari perdagangan dan jendela peristiwa selama 21 hari yang terdiri dari : –10 hari untuk mengetahui ada tidaknya kebocoran informasi, 0 hari untuk mengetahui reaksi pasar pada tanggal publikasi laporan keuangan dan 10 hari untuk mengetahui kecepatan reaksi pasar dengan adanya publikasi laporan keuangan.

Beberapa batasan dan asumsi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Peneliti dalam mengamati reaksi pasar modal dalam perubahan harga saham dan volume transaksi perdagangan saham biasa. Dipilih saham biasa karena saham biasa yang paling aktif diperdagangkan di Bursa Efek Jakarta.

2. Pengertian publikasi laporan keuangan tahunan adalah publikasi laporan keuangan tahunan auditan dari suatu perusahaan melalui surat kabar yang peredarannya bersifat nasional.

3. Tanggal publikasi laporan keuangan tahunan antar perusahaan sangat bervariasi. Analisis dalam penelitian ini didasarkan pada asumsi bahwa perbedaan tanggal publikasi laporan keuangan tahunan tidak menganggu analisis. Hal ini dikarenakan perlunya mengamati perubahan harga saham dan volume perdagangan di seputar tanggal publikasi laporan keuangan tahunan dalam waktu sependek mungkin setelah tanggal publikasi.

4. Reaksi pasar yang diamati dalam penelitian ini adalah reaksi pasar terhadap publikasi laporan keuangan tahunan untuk tahun 1998.

Populasi dan Sampling

1. Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah perusahaan go public di Indonesia yang tercatat dan telah menawarkan sahamnya melalui Bursa Efek Jakarta. Penentuan sampel pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan judgement sampling dipilih saham-saham dengan cara bertahap :

2. Sampel diambil dari perusahaan yang telah terdaftar di BEJ pada tahun 1997 dan sahamnya aktif diperdagangkan di bursa selama tahun 1997 dan 1998 dengan memakai data dari 36 saham yang likuid berdasarkan SE BEJ No. SE.03/BEJ II.1/1994. (lihat tabel 1)

3. Perusahaan yang mempublikasikan laporan keuangan di BEJ melalui media massa pada tahun 1998.

4. Perusahaan yang menjadi sampel dalam penelitian ini tidak melakukan kebijakan pemecahan lembar sahamnya (stock split) selama periode yang diamati yaitu 150 hari.

Pengumpulan data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah harga saham harian, indeks harga saham gabungan harian, tanggal publikasi/pengumuman laporan keuangan tahunan di surat kabar, dan daftar kurs efek. Data tersebut dikumpulkan untuk 38 saham yang terpilih sebagai sampel. Data harga saham harian, indeks harga saham ,dan volume perdagangan saham harian yang diperoleh melalui akses internet pada website BEJ www.jsx.co.id. Tanggal publikasi/pengumuman laporan keuangan tahunan perusahaan sampel diperoleh dengan dokumentasi langsung dari arsip-arsip di BEJ dan BAPEPAM.

Pengolahan Data Harga Saham

Data yang telah terkumpul kemudian diolah dengan tahapan pengolahan sebagai berikut :

1. Menghitung return saham harian individual

Rit = (Pit – Pit-1)/Pit-1

dalam hal ini :

Rit

:

return saham masing-masing perusahaan pada t

Pit

:

harga saham masing-masing perusahaan pada t

Pit-1

:

harga saham masing masing perusahaan pada t-1

2. Menghitung return pasar harian :

Rmt = (IHSGt – IHSGt-1)/IHSGt-1

dalam hal ini :

Rmt

:

return pasar

IHSGt

:

indeks harga saham gabungan pada t

IHSGt-1

:

indeks harga saham gabungan pada t-1

3. Meregresikan return saham terhadap return pasar dengan menggunakan Ordinary Least Square dengan persamaan sebagai berikut :

Rij = ai + biRmj + eit

dalam hal ini :

Rij

:

return realisasi saham i pada periode estimasi ke-j.

ai

:

intercept untuk saham I

bI

:

koefisien slope yang merupakan beta dari saham I

Rmj

:

return indeks pasar pada periode estimasi ke-j

eit

:

kesalahan residu saham i pada periode estimasi ke-j, umumnya diasumsikan sama dengan nol.

4. Menghitung return ekspektasi pada periode pengamatan

E(Rit) = ai + bi.Rmt

dalam hal ini :

E(Rit)

:

return ekspektasi saham i pada periode jendela ke-t.

ai

:

intercept untuk saham i

bI

:

koefisien slope yang merupakan beta dari saham i

Rmt

:

return indeks pasar pada periode estimasi ke-t

5. Menghitung abnormal return saham dengan persamaan :

Ait = Rit -E(Rit)

dalam hal ini

Ait

:

abnormal return saham i pada periode t

Rit

:

return realisasi saham i pada periode t

E(Rit)

:

return ekspektasi saham i pada periode jendela ke-t.

clip_image002

6. Menghitung kesalahan standar dari peramalan untuk periode t

dalam hal ini :

Sift

:

kesalahan standar peramalan saham i pada t periode jendela

Sie

:

kesalahan standar estimasi untuk saham i selama periode estimasi

T

:

jumlah hari yang digunakan di dalam persamaan regresi

Rmj

:

return indeks pasar untuk periode j di dalam periode estimasi

Rmt

:

return indeks pasar untuk periode t di dalam periode jendela

Rm

:

rata-rata return indeks pasar rata selama periode estimasi

7. Return tidak normal standarisasi pada t period

SARit = ARit/Sift

dalam hal ini :

SARit

:

standarisasi abnormal return harian saham i pada periode jendela ke t

Ait

:

abnormal return saham i pada periode jendela ke-t

Sift

:

kesalahan standar dari estimasi untuk saham i pada t periode jendela

clip_image004

8. Menghitung standarisasi abnormal return saham harian dari seluruh sampel

dalam hal ini :

SARNt

:

abnormal return harian standarisasi untuk seluruh saham pada periode jendela ke t

SARit

:

abnormal return standarisasi saham i pada periode jendela ke-t

N

:

jumlah saham sampel

clip_image006

9. Menghitung average abnormal return

clip_image008

10. Menghitung cumulative average abnormal return

clip_image010

11. Melakukan uji statistik parametrik uji t dan non parametrik uji Z.

dalam hal ini :

p : proporsi positif abnormal return saham nyata

N : jumlah sekuritas yang diobservasi

Pengolahan Data Volume Perdagangan Saham

Data yang telah terkumpul kemudian diolah dengan tahapan pengolahan sebagai berikut :

1. Meregresikan volume saham i yang diperdagangkan/terdaftar terhadap jumlah volume saham yang diperdagangkan/beredar di pasar dengan menggunakan Ordinary Least Square dengan persamaan sebagai berikut :

clip_image012

dalam hal ini :

PVit

:

logaritma dasar dari saham i yang diperdagangkan dibagi jumlah saham i yang terdaftar di bursa pada hari t.

AI, bi

:

intercept dan slope estimasi

VMKTt

:

Jumlah saham yang diperdagangkan di bursa pada hari t

OSKMTt

:

Jumlah saham yang beredar di bursa pada hari t

eit

:

kesalahan residu

2.

clip_image014

Menghitung standarisasi abnormal return sekuritas dengan persamaan :

dalam hal ini

UVit

:

abnormal volume saham ke i pada hari t

PVit

:

Volume saham sebenarnya ke i pada hari t

PVit

:

Volume saham ekspektasi ke i pada hari –t

STVit

:

standar deviasi residual perusahaan i dari persamaan

3. Menghitung average abnormal volume

4.

clip_image017

Menghitung cumulative average abnormal return

clip_image010[1]

5. Melakukan uji statistik parametrik uji t dan non parametrik uji Z.

dalam hal ini :

p : proporsi positif abnormal return saham nyata

N : jumlah sekuritas yang diobservasi

Pengujian hipotesis

Pengujian hipotesis yang dilakukan sesuai dengan pengolahan data tersebut di atas adalah sebagai berikut :

Hipotesa pertama :

H11 : Publikasi laporan keuangan tahunan tidak berpengaruh terhadap harga saham di BEJ.

Hipotesa kedua :

H12 : Publikasi laporan keuangan tahunan tidak berpengaruh terhadap volume perdagangan saham di BEJ.

Pengujian hipotesis harga saham
Uji t statistik

Dari persamaan regresi dalam tabel 2 selanjutnya dapat diketahui tingkat abnormal return masing-masing saham perusahaan yang menjadi sampel.

Abnormal return menunjukkan adanya reaksi harga saham terhadap publikasi laporan keuangan pada suatu hari tertentu.

Secara umum, langkah-langkah pengujian hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Merumuskan hipotesis nol (HO) dan Hipotesis alternatif (H1). Secara statistika, hipotesis tersebut dirumuskan sebagai:

H0 : SARNt = 0

H1 : SARNt ¹ 0

2. Sesuai dengan bentuk rumusan hipotesis di atas, untuk menguji hipotesis tersebut digunakan distribusi t.

3. Menentukan taraf nyata a, dalam penelitian ini a ditetapkan sebesar 5% Sesuai dengan bentuk rumusan hipotesis di atas, untuk menguji hipotesis tersebut digunakan distribusi t dengan taraf nyata a sebesar 0,05 secara dua arah.

4. Menentukan kriteria penerimaan atau penolakan terhadap Ho. Secara statistika, kriteria tersebut dirumuskan sebagai berikut :

Ho ditolak bila t tabel(a,df) < t hitung > t tabel(a,df)

Ho diterima bila t tabel(a,df) > t hitung < t tabel(a,df) df = n – 1 atau 38 –1 = 37

Kesimpulan hipotesis. Berdasarkan data pada tabel 4 semua nilai SARNt selama 21 hari yang diamati, berada pada rentang nilai antara –t (a/2 : df) yaitu 2,0262 sampai dengan t (a/2 : df) yaitu 2,062. Gambaran ini menunjukkan bahwa Ho diterima dan H1 ditolak.

Nilai rata-rata abnormal return standarisasi (SARNt)kemudian diuji dengan t statistik . Jika t statistik < t tabel maka Ho diterima dan H1 ditolak, dengan derajat kepercayaan 5% uji dua sisi ; 2,0262. Dari tabel diatas nampak pada t-1 nilai t statistik lebih signifikan dari pada hari lainnya hal ini diduga pasar modal dalam lebih awal mengantisipasi informasi laporan keuangan tahunan dan pada t1 pasar bereaksi lebih signifikan dibandingkan 1 hari sebelumnya yaitu t0. (tanggal publikasi laporan keuangan tahunan)

Uji Z statistik

Langkah-langkah pengujian hipotesis dengan uji Z statistik dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Merumuskan hipotesis nol (HO) dan Hipotesis alternatif (HA). Secara statistika, hipotesis tersebut dirumuskan sebagai:

H0 : AARt = 0

HA : AARt ¹ 0

Sesuai dengan bentuk rumusan hipotesis di atas, untuk menguji hipotesis tersebut digunakan distribusi Z.

2. Menentukan taraf nyata a, dalam penelitian ini a ditetapkan sebesar 5% Sesuai dengan bentuk rumusan hipotesis di atas, untuk menguji hipotesis tersebut digunakan distribusi Z dengan taraf nyata a sebesar 0,05 secara dua arah.

3. Menentukan kriteria penerimaan atau penolakan terhadap Ho. Secara statistika, kriteria tersebut dirumuskan sebagai berikut :

Ho ditolak bila Z tabel(a/2) < Z hitung > Z tabel(a/2)

Ho diterima bila Z tabel(a/2) > Z hitung < Z tabel(a/2)

Kesimpulan hipotesis. Berdasarkan data pada tabel 5. semua nilai AAR selama 21 hari yang diamati, berada pada rentang nilai antara Z(a/2) yaitu – 1,96 sampai dengan Z(a/2) yaitu 1,96. Gambaran ini menunjukkan bahwa Ho diterima dan H1 ditolak. Yang berarti publikasi laporan keuangan tahunan mempengaruhi perubahan harga saham yang terjadi di pasar modal.

Rata-Rata Kumulatif Abnormal Return

Karena reaksi tersebut dapat terjadi selama beberapa hari, maka selain rata-rata abnormal return juga dihitung rata-rata kumulatif abnormal return yang merupakan penjumlahan average abnormal return selama periode jendela. Dengan demikian CAAR menunjukkan total reaksi harga selama periode jendela seperti dalam gambar 1.

Dari gambar 1 tersebut menunjukkan adanya lonjakan reaksi harga pada saat sebelum dipublikasikan laporan keuangan tahunan t-1 sepertinya informasi dalam laporan keuangan telah lebih awal diketahui oleh pelaku pasar modal dengan suatu media selain surat kabar. Pada hari t0 reaksi harga menunjukan penurunan sebesar –0,01135 dan setelah t0 pada hari t1 menunjukkan adanya peningkatan reaksi harga sebesar 0,00316.

Rata-rata kumulatif abnormal return selama 10 hari sebelum publikasi lebih tinggi daripada rata-rata kumulatif abnormal return selama 10 hari setelah publikasi laporan keuangan. Hal ini menunjukkan investor responsif terhadap informasi yang dimuat dalam laporan keuangan dikarenakan informasi yang terkandung didalamnya merupakan suatu berita/informasi yang baru yang diperlukan bagi investor dalam pengambilan keputusan investasi di pasar modal, atau dengan kata lain pasar efisien secara informasi dalam menyerap kandungan informasi dari laporan keuangan tahunan yang dipublikasikan.

Pengujian hipotesis volume perdagangan saham
Uji t statistik

Dari persamaan regresi dalam tabel 3 selanjutnya dapat diketahui tingkat abnormal volume masing-masing saham perusahaan yang menjadi sampel.

Abnormal volume menunjukkan adanya reaksi volume perdagangan saham terhadap publikasi laporan keuangan pada suatu hari tertentu.

Secara umum, langkah-langkah pengujian hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Merumuskan hipotesis nol (HO) dan Hipotesis alternatif (H1). Secara statistika, hipotesis tersebut dirumuskan sebagai:

H0 : SUVt = 0

H1 : SUVt ¹ 0

Sesuai dengan bentuk rumusan hipotesis di atas, untuk menguji hipotesis tersebut digunakan distribusi t.

2. Menentukan taraf nyata a, dalam penelitian ini a ditetapkan sebesar 5% Sesuai dengan bentuk rumusan hipotesis di atas, untuk menguji hipotesis tersebut digunakan distribusi t dengan taraf nyata a sebesar 0,05 secara dua arah.

3. Menentukan kriteria penerimaan atau penolakan terhadap Ho. Secara statistika, kriteria tersebut dirumuskan sebagai berikut :

Ho ditolak bila t tabel(a,df) < t hitung > t tabel(a,df)

Ho diterima bila t tabel(a,df) > t hitung < t tabel(a,df) df = n – 1 atau 38 –1 = 37

Kesimpulan hipotesis. Berdasarkan data pada tabel 6 semua nilai SUVt selama 21 hari yang diamati, berada pada rentang nilai antara –t (a/2 : df) yaitu 2,0262 sampai dengan t (a/2 : df) yaitu 2,062. Gambaran ini menunjukkan bahwa Ho diterima dan H1 ditolak.

Nilai rata-rata volume perdagangan tidak standarisasi (SUVt) kemudian diuji dengan t statistik . Jika t hitung < t tabel maka Ho diterima dan H1 ditolak, dengan derajat kepercayaan 5% uji dua sisi ; 2,0262 dan nampaknya pasar modal Indonesia efisien maka pada t0 diperkirakan lebih besar dari nol. Dari tabel diatas nampak pada t0 nilai t signifikan dari pada hari lainnya hal ini diduga pasar modal dalam lebih awal mengantisipasi informasi laporan keuangan tahunan dan pada t1 pasar bereaksi lebih signifikan dibandingkan 1 hari sebelumnya yaitu t0. (tanggal publikasi laporan keuangan tahunan)

Uji Z statistik

Langkah-langkah pengujian hipotesis dengan uji Z statistik dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Merumuskan hipotesis nol (HO) dan Hipotesis alternatif (HA). Secara statistika, hipotesis tersebut dirumuskan sebagai:

H0 : SUVt = 0

HA : SUVt ¹ 0

Sesuai dengan bentuk rumusan hipotesis di atas, untuk menguji hipotesis tersebut digunakan distribusi Z.

2. Menentukan taraf nyata a, dalam penelitian ini a ditetapkan sebesar 5% Sesuai dengan bentuk rumusan hipotesis di atas, untuk menguji hipotesis tersebut digunakan distribusi Z dengan taraf nyata a sebesar 0,05 secara dua arah.

3. Menentukan kriteria penerimaan atau penolakan terhadap Ho. Secara statistika, kriteria tersebut dirumuskan sebagai berikut :

Ho ditolak bila Z tabel(a/2) < Z hitung > Z tabel(a/2)

Ho diterima bila Z tabel(a/2) > Z hitung < Z tabel(a/2)

Kesimpulan hipotesis. Berdasarkan data pada tabel 7 semua nilai SUVit selama 21 hari yang diamati, berada pada rentang nilai antara Z(a/2) yaitu – 1,96 sampai dengan Z(a/2) yaitu 1,96. Gambaran ini menunjukkan bahwa Ho diterima dan H1 ditolak. Yang berarti publikasi laporan keuangan mempengaruhi perubahan volume perdagangan saham yang terjadi di pasar modal.

Rata-Rata Kumulatif Volume Perdagangan Abnormal

Karena reaksi tersebut dapat terjadi selama beberapa hari, maka selain rata-rata abnormal return juga dihitung rata-rata kumulatif abnormal volume yang merupakan penjumlahan rata-rata abnormal volume selama periode jendela. Dengan demikian rata-rata kumulatif abnormal volume menunjukkan total reaksi volume perdagangan selama periode jendela seperti dalam gambar 2.

Dari gambar 2 tersebut nampak kumulatif rata-rata abnormal volume menunjukkan gejala yang sama dengan rata-rata kumulatif abnormal return, investor Bursa Efek Jakarta responsif terhadap informasi laporan keuangan yang masuk dalam pasar, atau dengan kata lain pasar efisien dalam menyerap informasi laporan keuangan yang dipublikasikan.

Adanya lonjakan reaksi volume perdagangan pada saat sebelum dipublikasikan laporan keuangan sepertinya informasi dalam laporan keuangan telah digunakan lebih awal diketahui oleh para pelaku pasar modal dengan menggunakan suatu media selain surat kabar. Lonjakan abnormal volume secara kumulatif puncaknya terjadi pada t-1, pada saat dipublikasikannya laporan keuangan tahunan t0 abnormal volume secara kumulatif turun hingga mencapai titik 0,06053 dan setelah dipublikasikannya laporan keuangan harga saham menunjukkan reaksi yang negatif. Rata-rata kumulatif abnormal volume selama 10 hari sebelum publikasi lebih tinggi daripada rata-rata kumulatif abnormal volume selama 10 hari setelah publikasi laporan keuangan. Hal ini menunjukkan investor responsif terhadap informasi yang dimuat dalam laporan keuangan dikarenakan informasi yang terkandung didalamnya merupakan suatu berita/informasi yang baru yang diperlukan bagi investor dalam pengambilan keputusan investasi di pasar modal.

ANALISIS HASIL PENELITIAN

Penelitian ini merupakan studi yang mempelajari reaksi pasar modal terhadap suatu peristiwa dengan dipublikasikannya laporan keuangan emiten di BEJ. Jika publikasi laporan keuangan tahunan mengandung informasi, maka diharapkan pasar akan bereaksi pada waktu publikasi tersebut diterima oleh pasar. Reaksi pasar yang ditunjukkan dengan adanya abnormal return dan abnormal volume yang diakibatkan oleh publikasi laporan keuangan tahunan melalui media massa.

Investor dalam menginterprestasikan reaksinya dari publikasi laporan keuangan tahunan secara berbeda dalam hal harga sekuritas maupun volume perdagangan. Perubahan harga sekuritas menunjukkan refleksi agregasi atau keyakinan investor umumnya terhadap sekuritas yang diperdagangkan sedangkan perubahan volume perdagangan menunjukkan refleksi tindakan investor atau jumlah aktivitas seluruh perdagangan di pasar modal.

Morse (1981) dan Bamber (1987) menyatakan reaksi pasar terjadi pada t-1 dan t0 berlanjut hingga t2 . Jogiyanto (1998) menyatakan suatu pasar dikatakan efisien jika waktu penyesuaian harga keseimbangan yang baru dilakukan dengan cepat pada hari t1 dan suatu pasar dikatakan tidak efisien jika kecepatan penyesuaian cukup lama yaitu pada hari t2. Jika hari t2 berlarut-larut dan cukup lama, hal ini menunjukkan indikasi adanya distribusi informasi yang belum simetris, yaitu hanya beberapa investor saja yang mendapatkan informasi yang bersangkutan.

Rata-rata abnormal return standarisasi pada tabel 4 menunjukkan pada hari t-1 dan t1 menunjukkan abnormal return yang positif dan hasil uji statistik menunjukkan nilai t hitung pada t-1 lebih signifikan daripada nilai t hitung pada t1. Pada t0 nilai t hitung menunjukkan nilai yang lebih rendah dibanding nilai t hitung pada hari t-1 dan t1. Hasil ini membuktikan bahwa informasi laporan keuangan tahunan berpengaruh terhadap perubahan harga saham. Dari data pada tabel 4 menggambarkan adanya peningkatan sebesar 2,26% rata-rata abnormal return selama 10 hari sebelum publikasi dan 10 hari setelah publikasi laporan keuangan. Peningkatan tersebut menandakan sedikitnya dengan publikasi laporan keuangan pasar telah merespon informasi laporan keuangan yang dipublikasikan .

Gambar 1 menunjukkan bahwa CAAR perusahaan yang mempublikasikan laporan keuangan tahunannya secara relatif mempunyai nilai negatif dimulai hari t–9 hingga t–2 sebelum publikasi laporan keuangan tersebut. Peningkatan CAAR terjadi pada t–1 hari dan t1 hari setelah publikasi laporan keuangan , kemudian setelah t2 CAAR cenderung turun hingga t9.

Adanya lonjakan abnormal volume perdagangan saham pada t-1 sebelum publikasi laporan keuangan. Pada t0 abnormal volume yang diperoleh adalah sebesar 0,06053. Dalam tabel 6 menunjukkan adanya peningkatan sebesar 1,63% rata-rata abnormal volume selama 10 hari sebelum publikasi dan 10 hari setelah publikasi laporan keuangan tahunan. Peningkatan tersebut menandakan adanya pengaruh dari publikasi laporan keuangan pasar telah merespon informasi yang disajikan dalam laporan keuangan tahunan yang dipublikasikan. Gambar 2 menunjukkan bahwa rata-rata kumulatif volume abnormal dari perusahaan yang mempublikasikan laporan keuangan tahunannya secara relatif mengalami penurunan hingga t2 setelah publikasi laporan keuangan dan penurunan volume abnormal dimulai pada saat diumumkannya laporan keuangan pada hari t0. Fluktuasi volume abnormal setelah t-1 berubah drastis cenderung turun hingga titik yang paling rendah yaitu pada hari t2.

Setelah dilakukan analisis atas reaksi pasar diperoleh fakta terdapat lonjakan abnormal volume dibandingkan dengan lonjakan abnormal return. Dari hasil pengujian hipotesis menunjukkan baik abnormal return maupun volume abnormal dipengaruhi oleh publikasi laporan keuangan tahunan, dalam uji statistik parametrik dan uji statisitik non parametrik perubahan harga lebih signifikan dibandingkan dengan perubahan volume perdagangan saham. Hasil ini konsisten dengan yang telah dilakukan oleh Morse (1981).

Pendapat Morse (1981) lonjakan perubahan harga dan volume yang terjadi pada t-1 disebabkan adanya misspecification public announcement karena informasi laba seringkali diumumkan sehari sebelum pengumuman pada Wall Streets Journal melalui sistem pencatatan data yang masuk ke bursa dan hal ini sejalan dengan pendapat Blake (1990) dalam pengujian bentuk pasar efisien setengah kuat umumnya reaksi pasar terjadi pada hari t-1 dikarenakan keputusan investor didasarkan atas informasi yang termuat dalam stocks broker reports yang lebih cepat pemunculannya dibandingkan dengan media pengumuman laporan keuangan lainnya. Sedangkan pendapat Ball & Brown (1968) menyatakan bahwa para pelaku pasar modal telah mengetahui sebagian besar informasi yang dimuat dalam laporan keuangan auditan dari sumber media lain yang lebih cepat yang mencakup laporan keuangan interim. Sedangkan menurut peneliti lonjakan perubahan harga dan volume yang terjadi pada t-1 di Bursa Efek Jakarta disebabkan teknologi informasi yang digunakan oleh media massa karena hampir semua media massa yang mempunyai peredaran secara nasional membuka layanan on-line sehingga berita/informasi yang akan diberitakan sudah dapat diketahui dengan cepat sehari sebelum dipublikasikannya media massa tersebut. Hal ini tidak menutup kemungkinan para investor menggunakan jasa teknologi informasi tersebut dalam pengambilan keputusannya dengan cepat.

Dari hasil secara keseluruhan menandakan informasi yang disajikan dalam laporan keuangan berguna dalam keputusan investasi di pasar modal Indonesia, dengan kata lain Bursa Efek Jakarta memenuhi bentuk efisiensi setengah kuat untuk tahun 1997.

KESIMPULAN

Setelah dilakukan analisis atas reaksi harga saham dan volume perdagangan saham atas publikasi laporan keuangan tahunan di Bursa Efek Jakarta untuk tahun 1997, dapat ditarik kesimpulan , yaitu :

1. Dengan menggunakan pendekatan market model yang digunakan oleh Peterson (1989), Cready dan Mynatt (1991) dan Bamber (1987) dengan menggunakan sampel yang terbatas dapat menggambarkan kondisi pasar modal yang sebenarnya. Sehingga dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Bursa Efek Jakarta memenuhi kriteria sebagai suatu pasar modal efisien setengah kuat untuk tahun 1998.

2. Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan tahunan berguna bagi investor dalam pengambilan keputusan investasi di pasar modal Indonesia dalam hal ini Bursa Efek Jakarta. Adanya reaksi pasar yang berupa lonjakan harga saham dan volume perdagangan dengan adanya publikasi laporan keuangan. Hal ini dikarenakan informasi yang termuat dalam laporan keuangan tahunan masih dianggap sebagai informasi/berita yang baru di pasar modal.

3. Lonjakan rata-rata kumulatif abnormal volume lebih tinggi daripada rata-rata kumulatif abnormal return. Pengaruh publikasi laporan keuangan terhadap harga saham kurang signifikan dibandingkan dengan volume perdagangan.

4. Publikasi laporan keuangan tahunan melalui media massa, nampaknya berpengaruh di dalam pengambilan keputusan investasi karena sebelum dipublikasikan di media massa para pelaku pasar modal telah menunjukkan reaksi pasar yang positif diduga hal ini selain media massa investor menggunakan juga media lainnya melalui teknologi informasi seperti internet.

SARAN-SARAN

Berdasarkan kesimpulan di atas ternyata investor bereaksi atas publikasi laporan keuangan Beberapa saran penulis, mengingat bahwa informasi akuntansi mempengaruhi preferensi investor untuk menyusun dan merubah portfolionya, saran-saran yang ingin diajukan adalah sebagai berikut :

1. Untuk mereka yang berminat melakukan penelitian di bidang keuangan. Hasil penelitian ini bersifat tentatif, oleh karena itu perlu penelitian lebih lanjut untuk mengetahui sejauh mana pasar modal bereaksi terhadap informasi akuntansi, dalam penelitian lebih lanjut perlu pemilihan sampel yang lebih ketat untuk dapat meminimalkan distorsi informasi dalam melihat reaksi pasar atas informasi akuntansi serta meneliti hubungan antara perubahan harga dan perubahan volume perdagangan saham yang diakibatkan oleh adanya publikasi/pengumuman informasi akuntansi.

2. Dalam kondisi pasar modal efisien setengah kuat, penulis menyarankan kepada peneliti selanjutnya untuk meneliti sumber-sumber informasi yang digunakan oleh investor dalam pengambilan keputusan investasi.

3. Untuk Bapepam dan PT BEJ. Salah satu syarat supaya suatu informasi berguna adalah penyajian informasi yang tepat waktu. Oleh karena itu, barangkali BAPEPAM dan PT BEJ dapat mengeluarkan aturan baru yang dapat mendorong emiten untuk mempercepat penyajian laporan keuangan tahunan kepada publik melalui media lain selain media massa.

DAFTAR PUSTAKA

Abdelsalam, Mahmoud dan Diane Satin,”The Effect of Published Corporate Financial Reports on Stock Trading Volume in Thin Market : A Study of Saudi Arabia,” The International Journal of Accounting, Vol. 26 (1991), hal. 302-313.

Ball, R. J., dan P. Brown, “ An Empirical Evaluation of Accounting Income Numbers,” Journal of Accounting Research 6 (Autumn 1968), hal. 159-178.

Ball, Ray dan S.P. Kothari,”Security Returns Around Earnings Announcements,”The Accounting Review 66 (October 1991), hal. 718-738.

Bamber, Linda Smith,”The information Content of Annual Earning Release : A Trading Volume Approach,” Journal of Accounting Research¸ (Spring 1986), hal 40-55.

__________________,”Unexpected Earning, Firm Size and Trading Volume Around Quarterly Earning Announcements,”The Accounting Review, (July 1987), hal.510-531.

__________________ dan Cheon, Youngsoon Susan,”Differential Price and Volume to Accounting Earning Announcements,”The Accounting Review¸ (July 1997), hal 417-441.

Basu, Sudipta,”The conservatism principle and the asymmetric timeliness of earnings,” Journal of Accounting and Economics 24 (1997), hal. 3-37.

Beaver, William H,”Market Efficiency,”The Accounting Review (January 1981), hal. 23-37.

Beaver, William H, Mary Lea McAnally, dan Christopher H. Stinson., “The Information contents of earnings and prices : A simultaneous equation approach,” Journal of Accounting and Economics 23 (1997), hal.53-81.

Blake, David, Financial Market Analysis, Singapore: Mc Graw Hill Book Co., 1990.

Brown, Philip,”The impact of the annual net profit report on the stock market,” The Australian Accountant (July 1970), hal. 277-283.

Brown, S.J., dan J. B. Warner,”Using Daily Stock Returns : The Case of Event Studies,” Journal of Financial Economics 14 (1985), hal 3 –31.

Cready, William M., dan Patricia G. Mynatt,”The Information Content of Annual Reports : A Price and Trading Response Analysis,” The Accounting Review 66 (April 1991), hal. 291-312.

Demski, Joel S., dan Gerald A. Feltham,”Market response to financial reports,”Journal of Accounting and Economics 17 (1994), hal. 3-40.

FASB, Statements of Financial Accounting Concepts, 1978.

Foster, George, Financial Statement Analysis, Second Edition, New Jersey : Prentice-Hall International, Inc., 1986.

Hartono, Jogiyanto,Teori Portfolio dan Analisis Investasi, Edisi Pertama, Yogyakarta : BPFE, 1998.

Hartono, Jogiyanto,”Bias Dari Penggunaan Model di MBAR,”Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia 14 (1999), hal. 28-36.

Hendriksen, Eldon S. dan Van Breda, Michael F, Accounting Theory, fifth edition, Homewood : Richard D. Irwin, Inc., 1992.

Husnan, Suad, Dasar-dasar Teori Portofolio dan Analisis Sekuritas, Edisi Kedua, Yogyakarta : UPP AMP YKPN, 1994.

Husnan, Suad., Mamduh M. Hanafi, dan Amin Wibowo, “Dampak Pengumuman Laporan Keuangan Terhadap Kegiatan Perdagangan Saham dan Variabilitas Tingkat Keuntungan,” Kelola 11 (1996), hal. 110-125.

Kim, Oliver dan Verrecchia, Robert E, “Trading Volume and Price Reactions to Public Announcements,” Journal of Accounting Research 29 (Autumn 1991), hal. 302-321.

_____________________________________, “Market liquidity and volume around earnings announcements,” Journal of Accounting and Economics 17 (1994), hal. 41-67.

Morse, Dale,”Price and Trading Volume Reaction Surrounding Earnings Announcements : A Closer Examination,” Journal of Accounting Research, 19 (Autumn 1981), hal. 374-383.

Paton, W.A., dan Littleton, A.C, An Introduction to Corporate Accounting Standards, American Accounting Association, 1970.

Peterson, Pamela P, Event Studies : A Review of Issues and Methodology, Copyright, University of Nebraska-Lincoln, 1989.

Ro. Byung T, “The Disclosure of Replacement Cost Accounting Data and Its Effect on Transaction Volumes,” The Accounting Review, Januari 1981, hal. 71-84.

___________ , “The Disclosure of Replacement Cost Accounting Data and Its Effect on Transaction Volumes : A Reply ,” The Accounting Review, Januari 1981, hal. 181-87.

Stice, Earl K, “The Market Reaction to 10-K and 10-Q Filings and to Subsequent The Wall Street Journal Earning Announcement,” The Accounting Review, January 1991, hal. 42-55.

Scott, William R, Financial Accounting Theory, New Jersey : Prentice-Hall International, Inc., 1997.

Schroeder, Richard G., and Myrtle Clark, Accounting Theory – Text and Reading, New York : John Wiley & Sons, Inc., 1995.

Watts, Ross L. dan Zimmerman, Jerold L, Positive Accounting Theory, New Jersey : Prentice-Hall, Inc., 1986.

Wonnacott, Ronald J., and Thomas H. Wonnacott, Introductory Statistics, Fifth Edition, New York : John Wiley & Sons, 1990.