PELAKSANAAN PROSEDUR ANALITIS

Menurut SAS No. 56 (AU 329,02) prosedur analitis adalah "evaluasi informasi keuangan yang dibuat dengan mempelajari hubungan yang logis antar data keuangan maupun nonkeuangan …….meliputi pembandingan jumlah-jumlah yang tercatat atas harapan yang dikembangkan oleh auditor". Definisi tersebut menitikberatkan pada harapan yang dikembangkan oleh auditor dengan mengindentifikasi dan menggunakan hubungan yang logis yang secara pantas diharapkan terjadi berdasarkan pemahaman auditor. Misalnya, auditor mempelajari hubungan antara biaya komisi dan total penjualan kemudian dibandingkan dengan tarif komisi penjualan yang berlaku, untuk menguji kewajaran biaya komisi tahun tersebut. Prosedur analitis ini juga relevan bagi auditor untuk menentukan bahwa penjualan telah dicatat dengan benar, semua penjualan memperoleh komisi, dan bahwa tarif komisi penjualan sesuai dengan yang ditetapkan. Namun bila hasil perbandingan tersebut menunjukkan adanya perbedaan yang luar biasa, hal tersebut memberikan indikasi adanya kesalahan saji atau penyimpangan yang perlu dilakukan investigasi lebih luas. Prosedur analitis juga berguna untuk menduga kondisi keuangan klien dan mengurangi luasnya pengujian-pengujian. Jika hasil pembandingan tidak menunjukkan adanya fluktuasi yang abnormal dapat diartikan bahwa kemungkinan kesalahan dan ketidakberesan sangat kecil sehingga pengujian tidak perlu diperluas.

Prosedur analitis digunakan dalam setiap fase auditing dengan tujuan sebagai berikut :

· Pada fase perencanaan, untuk membantu auditor dalam merencanakan sifat, waktu, lingkup dan prosedur audit.

· Pada fase pengujian, untuk memperoleh bukti mengenai masing-masing asersi yang berhubungan dengan saldo akun atau jenis-jenis transaksi.

Pada kesimpulan audit atau penilaian tahap akhir tentang kewajaran laporan keuangan yang diaudit, sebagai review menyeluruh. Hubungan antar ketiga fase audit dengan tujuan penerapan prosedur analitis nampak pada gambar berikut ini.

prosedir

Prosedur analitis akan dapat membantu auditor dalam perencanaan dengan (1) meningkatkan pemahaman usaha klien, dan (2) indentifikasi hubungan yang tidak umum (luar biasa) dan fluktuasi yang tidak diharapkan yang dapat memberikan indikasi adanya kesalahan saji yang material.

Penggunaan prosedur audit dalam fase perencanaan yang efektif meliputi penyelesaian langkah-langkah sebagai berikut :

· Identifikasi perhitungan/perbandingan yang harus dibuat.

· Menentukan hasil yang akan diharapkan dengan menentukan pembanding.

· Melakukan perhitungan/perbandingan.

· Analisis data dan mengidentifikasi perbedaan yang penting.

· Investigasi perbedaan yang tidak diharapkan (perbedaan yang luar biasa).

· Menentukan pengaruhnya terhadap rencana audit.

Identifikasi perhitungan/perbandingan yang harus dibuat ; adalah menentukan ratio-ratio atau perbandingan yang memenuhi harapan auditor atau sesuai dengan tujuannya. Misalnya auditor ingin mengetahui kemungkinan adanya penyimpangan dalam pemberian komisi penjualan, maka dapat dibuat ratio antar biaya komisi dengan total penjualan yang hasilnya dibandingkan dengan tarif komisi penjualan yang sudah ditetapkan. Kecermatan dan luasnya prosedur analitis yang digunakan dalam perencanaan akan berbeda-beda tergantung atas ukuran dan kerumitan usaha klien, tersedianya data, dan pertimbangan auditor. Jenis perhitungan dan perbandingan yang pada umumnya digunakan antara lain adalah :

· Perbandingan data absolut; adalah pembandingan antara satu jumlah tertentu tahun berjalan, misalnya saldo akun, dengan data anggaran atau prakiraan.

· Persentase per Komponen atau Analisa Vertikal; yaitu dengan menghitung persentasi masing-masing akun terhadap totalnya, misalnya kas terhadap total aktiva, utang usaha terhadap total pasiva. Hasil perhitungan tersebut apabila diperbandingkan dengan data industri dapat memberikan indikasi adanya penyimpangan.

· Analisa Rasio; yaitu perbandingan antara suatu informasi keuangan dengan informasi keuangan yang lain. Hasil perhitungan ini dapat dianalisa secara individu maupun kelompok, misalnya rasio likuiditas, efisiensi, profitabilitas, solvabilitas. Dengan memperbandingkan hasil perhitungan tersebut dengan data rata-rata tahun sebelumnya akan dapat diketahui fluktuasi atau perubahan yang abnormal yang memerlukan investigasi lebih lanjut.

· Analisa kecenderungan atau Trend Analysis; yaitu perbandingan suatu data tertentu untuk beberapa periode akuntansi, baik dalam bentuk absolut, persentase, atau rasio.

Harapan dan Pembanding. Dasar pemikiran atau alasan penggunaan prosedur analitis dalam auditing adalah bahwa hubungan antardata diharapkan dapat memberikan indikasi tentang kondisi yang tidak diketahui. Dasar pemikiran ini digunakan dalam menentukan hasil yang diharapkan dari berbagai sumber, baik data dari internal maupun eksternal yang bersifat historis maupun prakiraan. Berikut adalah contoh sumber informasi yang digunakan sebagai pembanding dalam mengembangkan harapan :

A. Informasi keuangan periode sebelumnya yang dapat diperbandingkan dengan memperhatikan perubahan yang diketahui.

B. Hasil yang diantisipasi; misalnya anggaran atau prakiraan, termasuk ekstrapolasi dari data interim atau tahunan.

C. Hubungan antara unsur-unsur informasi keuangan dalam suatu periode.

D. Informasi industri tempat klien berusaha, misalnya informasi tentang laba bruto.

E. Hubungan informasi keuangan dengan informasi nonkeuangan yang relevan.

Dalam semua hal, dapat dipercayainya dan kecocokan atau keserasian data yang digunakan untuk mengembangkan harapan harus dipertimbangkan. Misalnya data tahun lalu yang sudah diaudit lebih dapat dipercaya dari pada data yang tidak diaudit. Dapat tidaknya data anggaran sebagai pembanding tergantung pada anggapan atau asumsi yang digunakan dalam penyusunan anggaran. Manfaat data industri tergantung pada tingkat kesesuaian antara operasi perusahaan dan metode akuntansi dari industri tersebut. Jadi penggunaan data industri sebagai pembanding mempunyai keterbatasannya, misalnya adanya perbedaan metode depresiasi atau metode penilaian persediaan yang digunakan oleh klien berbeda dengan yang digunakan oleh industri pada umumnya.

Pelaksanaan Perhitungan/Pembandingan. Dalam langkah perhitungan termasuk pengumpulan data yang diperlukan dalam perhitungan perbedaan jumlah absolut dan persentase per komponen, data rasio, termasuk juga perolehan data industri yang akan digunakan sebagai pembanding. Dalam melakukan perhitungan dan pembandingan biasanya digunakan alat pembantu, misalnya kalkulator atau komputer.

Analisa Data dan Menentukan Perbedaan Penting. Dalam menganalisa perhitungan dan pembandingan, diperlukan pemahaman terhadap usaha klien. Misalnya dalam pembadingan data perusahaan tahun berjalan dengan tahun sebelumnya akan dapat membantu auditor dalam memahami pengaruh kejadian dan keputusan penting terhadap laporan keuangan klien, dari pada dengan data industri karena adanya karakteristik tertentu pada perusahaan klien. Sebagai pedoman dalam analisa data adalah mengindentifikasi fluktuasi yang tidak diharapkan atau tidak adanya fluktuasi yang diharapkan yang merupakan indikasi atau tanda-tanda semakin besarnya risiko salah saji. Hal yang paling sulit dalam tahap analisa adalah menentukan besarnya perbedaan atau fluktuasi yang memerlukan tindakan investigasi lebih lanjut. Dalam penentuan besarnya perbedaan atau fluktuasi ada yang menggunakan model statistik, namun ada pula yang menggunakan rumus-rumus sederhana misalnya perbedaan yang melebihi : (1) jumlah rupiah tertentu yang telah ditetapkan; (2) suatu persentase tertentu; (3) kombinasi antara keduanya (jumlah rupiah dan persentase).

Investigasi Perbedaan yang Tidak Diharapkan. Adanya perbedaan atau fluktuasi yang tidak diharapkan atau yang luar biasa diinvestigasi dengan mempertimbangkan kembali metode dan faktor yang digunakan dalam mengembangkan harapan, dan wawancara dengan manajemen. Kadang-kadang informasi baru akan mendukung perlunya revisi terhadap harapan yang telah dibuat. Jika penjelasan mengenai perbedaan tersebut tidak diperoleh, auditor harus menentukan pengaruhnya terhadap perencanaan auditnya.

Menentukan Pengaruhnya Terhadap Rencana Audit. Adanya perbedaan yang penting yang tidak dapat dijelaskan merupakan indikasi meningkatnya risiko salah saji dalam satu atau beberapa akun yang masuk dalam perhitungan atau perbandingan. Dalam beberapa hal, auditor biasanya merencanakan untuk melakukan pengujian lebih rinci terhadap akun-akun tersebut. Dengan perhatian auditor langsung pada daerah yang risikonya lebih besar, berarti prosedur analitis dapat pelaksanaan audit yang lebih efektif dan efisien.

Manfaat Prosedur Analitis dan Permasalahannya

Libby menemukan bahwa berdasarkan pengalaman akuntan mengidentifikasi dari kemungkinan besar terjadinya kesalahan ditemukan melalui fluktuasi data laporan keuangan dalam proses penelaahan analitis.[1]

Penelitian Biggs et al memberikan fakta bahwa manajer kantor akuntan publik dan akuntan senior mampu mengidentifikasi problem pemeriksaan yang krusial, tetapi manajer kantor akuntan publik memiliki kemampuan yang lebih tinggi dari akuntan senior dalam mengidentifikasi kekeliruan dan hubungan yang kompleks di antara bukti penelaahan analitis dan perubahan programan pemeriksaan.[2]

Cohen dan Kida lebih lanjut menguraikan hasil penelitiannya terhadap sample 96 akuntan The Big Eight, bahwa penelaahan analitis memberikan efek sangat besar atas pertimbangan manajer dibandingkan terhadap pertimbangan akuntan senior. Juga kebanyakan akuntan enggan mengurangi pengujian walaupun hasil penelaahan analitis mengisyaratkan tidak ada problem pemeriksaan yang memerlukan perhatian khusus. Mereka juga menemukan fakta bahwa prosedur penelaahan analitis merupakan variabel yang paling signifikan bagi manajer dan manajer lebih berpengalaman menggunakan prosedur penelaahan analitis dibandingkan dengan akuntan senior. Akuntan senior lebih sering mengadakan evaluasi pengawasan (pengendalian) intern, karena realibilitas pengawasan intern merupakan variabel yang paling signifikan baginya.3

Demikian juga penelitian yang dilakukan oleh Heiman terhadap akuntan dari dua kantor akuntan publik The Big Eigth, menyatakan bahwa secara keseluruhan hasil penelitian ini dapat dijadikan petunjuk untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pemeriksaan melalui penerapan prosedur analitis. Prosedur analitis dianggap sebagai suatu proses diagnostik, meliputi evaluasi atas hipotesis yang dibuat atas terjadinya perubahan-perubahan yang tidak biasa pada laporan keuangan klien, informasi ini sangat diperlukan akuntan.4 Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Wilson dan Colbert mengungkapkan bahwa prosedur analitis meliputi perbandingan jumlah yang tercatat di dalam laporan keuangan dengan jumlah yang diharapkan oleh akuntan. Perbandingan ini membantu akuntan dalam mengambil keputusan yang cukup beralasan atas jumlah-jumlah yang ditunjukkan dalam laporan keuangan. Hasil penelitian ini menganjurkan penggunaan model keputusan yang lebih tepat untuk memungkinkan penyajian jumlah yang diharapkan lebih teliti dan keputusan akuntan lebih efisien.5

Anjuran ini sejalan dengan kesimpulan penelitian Wild dan Biggs, bahwa metode prosedur analitis menghasilkan penaksiran jumlah yang lebih akurat dan lebih dapat dipercaya, serta risiko pemeriksaanpun dapat dikurangi.6 Walaupun masih terdapat kontroversi yang berpusat kepada penerapan prosedur analitis, karena masih ada data atau informasi keuangan setelah tanggal neraca. Tetapi terdapat beberapa argumentasi mengapa digunakan data nilai buku sebagai dasar pembuatan prosedur analitis, antara lain disebabkan bertambahnya risiko pemeriksaan dan pelanggaran independensi pemeriksaan akuntan. Selain itu juga, temuan utama dari Knechel menyatakan bahwa (1) penggunaan informasi saldo bulanan perkiraan laporan keuangan dalam penelaahan kritis lebih efektif dibandingkan dengan menggunakan saldo tahunan saja selama keandalan sistem akuntansi klien masih dalam taraf minimal, dan (2) penelaahan analitis non statistik digabungkan dengan sampling unit moneter ($) relatif dapat menambah efektivitas pemeriksaan dibandingkan dengan strategi pemeriksaan yang tidak menggunakan penelaahan kritis.7 Kemudian penelitian Coglitore dan Berryman memaparkan hasil, bahwa prosedur analitis lebih efektif dalam mendeteksi informasi keuangan material yang menyesatkan (misleading). Aplikasi prosedur analitis dalam penyusunan rencana pemeriksaan akan membantu untuk mendeteksi penghasilan yang terlalu tinggi (overstatement), piutang dagang dan penjulan fiktif, penyisihan piutang ragu-ragu, utang dagang yang tidak tercatat, dan utang biaya komisi yang terlalu rendah/kurang saji (understatement).8

Menurut SAS No. 56 (AU 329,02) prosedur analitis adalah "evaluasi informasi keuangan yang dibuat dengan mempelajari hubungan yang logis antar data keuangan maupun nonkeuangan …….meliputi pembandingan jumlah-jumlah yang tercatat atas harapan yang dikembangkan oleh auditor". Definisi tersebut menitikberatkan pada harapan yang dikembangkan oleh auditor dengan mengindentifikasi dan menggunakan hubungan yang logis yang secara pantas diharapkan terjadi berdasarkan pemahaman auditor. Misalnya, auditor mempelajari hubungan antara biaya komisi dan total penjualan kemudian dibandingkan dengan tarif komisi penjualan yang berlaku, untuk menguji kewajaran biaya komisi tahun tersebut. Prosedur analitis ini juga relevan bagi auditor untuk menentukan bahwa penjualan telah dicatat dengan benar, semua penjualan memperoleh komisi, dan bahwa tarif komisi penjualan sesuai dengan yang ditetapkan. Namun bila hasil perbandingan tersebut menunjukkan adanya perbedaan yang luar biasa, hal tersebut memberikan indikasi adanya kesalahan saji atau penyimpangan yang perlu dilakukan investigasi lebih luas. Prosedur analitis juga berguna untuk menduga kondisi keuangan klien dan mengurangi luasnya pengujian-pengujian. Jika hasil pembandingan tidak menunjukkan adanya fluktuasi yang abnormal dapat diartikan bahwa kemungkinan kesalahan dan ketidakberesan sangat kecil sehingga pengujian tidak perlu diperluas.

Prosedur analitis digunakan dalam setiap fase auditing dengan tujuan sebagai berikut :

· Pada fase perencanaan, untuk membantu auditor dalam merencanakan sifat, waktu, lingkup dan prosedur audit.

· Pada fase pengujian, untuk memperoleh bukti mengenai masing-masing asersi yang berhubungan dengan saldo akun atau jenis-jenis transaksi.

Pada kesimpulan audit atau penilaian tahap akhir tentang kewajaran laporan keuangan yang diaudit, sebagai review menyeluruh. Hubungan antar ketiga fase audit dengan tujuan penerapan prosedur analitis nampak pada gambar berikut ini.

untitled

 

Prosedur akan dapat membantu auditor dalam perencanaan dengan (1) meningkatkan pemahaman usaha klien, dan (2) indentifikasi hubungan yang tidak umum (luar biasa) dan fluktuasi yang tidak diharapkan yang dapat memberikan indikasi adanya kesalahan saji yang material.

Penggunaan prosedur audit dalam fase perencanaan yang efektif meliputi penyelesaian langkah-langkah sebagai berikut :

· Identifikasi perhitungan/perbandingan yang harus dibuat.

· Menentukan hasil yang akan diharapkan dengan menentukan pembanding.

· Melakukan perhitungan/perbandingan.

· Analisis data dan mengidentifikasi perbedaan yang penting.

· Investigasi perbedaan yang tidak diharapkan (perbedaan yang luar biasa).

· Menentukan pengaruhnya terhadap rencana audit.

Identifikasi perhitungan/perbandingan yang harus dibuat ; adalah menentukan ratio-ratio atau perbandingan yang memenuhi harapan auditor atau sesuai dengan tujuannya. Misalnya auditor ingin mengetahui kemungkinan adanya penyimpangan dalam pemberian komisi penjualan, maka dapat dibuat ratio antar biaya komisi dengan total penjualan yang hasilnya dibandingkan dengan tarif komisi penjualan yang sudah ditetapkan. Kecermatan dan luasnya prosedur analitis yang digunakan dalam perencanaan akan berbeda-beda tergantung atas ukuran dan kerumitan usaha klien, tersedianya data, dan pertimbangan auditor. Jenis perhitungan dan perbandingan yang pada umumnya digunakan antara lain adalah :

· Perbandingan data absolut; adalah pembandingan antara satu jumlah tertentu tahun berjalan, misalnya saldo akun, dengan data anggaran atau prakiraan.

· Persentase per Komponen atau Analisa Vertikal; yaitu dengan menghitung persentasi masing-masing akun terhadap totalnya, misalnya kas terhadap total aktiva, utang usaha terhadap total pasiva. Hasil perhitungan tersebut apabila diperbandingkan dengan data industri dapat memberikan indikasi adanya penyimpangan.

· Analisa Rasio; yaitu perbandingan antara suatu informasi keuangan dengan informasi keuangan yang lain. Hasil perhitungan ini dapat dianalisa secara individu maupun kelompok, misalnya rasio likuiditas, efisiensi, profitabilitas, solvabilitas. Dengan memperbandingkan hasil perhitungan tersebut dengan data rata-rata tahun sebelumnya akan dapat diketahui fluktuasi atau perubahan yang abnormal yang memerlukan investigasi lebih lanjut.

· Analisa kecenderungan atau Trend Analysis; yaitu perbandingan suatu data tertentu untuk beberapa periode akuntansi, baik dalam bentuk absolut, persentase, atau rasio.

Harapan dan Pembanding. Dasar pemikiran atau alasan penggunaan prosedur analitis dalam auditing adalah bahwa hubungan antardata diharapkan dapat memberikan indikasi tentang kondisi yang tidak diketahui. Dasar pemikiran ini digunakan dalam menentukan hasil yang diharapkan dari berbagai sumber, baik data dari internal maupun eksternal yang bersifat historis maupun prakiraan. Berikut adalah contoh sumber informasi yang digunakan sebagai pembanding dalam mengembangkan harapan :

A. Informasi keuangan periode sebelumnya yang dapat diperbandingkan dengan memperhatikan perubahan yang diketahui.

B. Hasil yang diantisipasi; misalnya anggaran atau prakiraan, termasuk ekstrapolasi dari data interim atau tahunan.

C. Hubungan antara unsur-unsur informasi keuangan dalam suatu periode.

D. Informasi industri tempat klien berusaha, misalnya informasi tentang laba bruto.

E. Hubungan informasi keuangan dengan informasi nonkeuangan yang relevan.

Dalam semua hal, dapat dipercayainya dan kecocokan atau keserasian data yang digunakan untuk mengembangkan harapan harus dipertimbangkan. Misalnya data tahun lalu yang sudah diaudit lebih dapat dipercaya dari pada data yang tidak diaudit. Dapat tidaknya data anggaran sebagai pembanding tergantung pada anggapan atau asumsi yang digunakan dalam penyusunan anggaran. Manfaat data industri tergantung pada tingkat kesesuaian antara operasi perusahaan dan metode akuntansi dari industri tersebut. Jadi penggunaan data industri sebagai pembanding mempunyai keterbatasannya, misalnya adanya perbedaan metode depresiasi atau metode penilaian persediaan yang digunakan oleh klien berbeda dengan yang digunakan oleh industri pada umumnya.

Pelaksanaan Perhitungan/Pembandingan. Dalam langkah perhitungan termasuk pengumpulan data yang diperlukan dalam perhitungan perbedaan jumlah absolut dan persentase per komponen, data rasio, termasuk juga perolehan data industri yang akan digunakan sebagai pembanding. Dalam melakukan perhitungan dan pembandingan biasanya digunakan alat pembantu, misalnya kalkulator atau komputer.

Analisa Data dan Menentukan Perbedaan Penting. Dalam menganalisa perhitungan dan pembandingan, diperlukan pemahaman terhadap usaha klien. Misalnya dalam pembadingan data perusahaan tahun berjalan dengan tahun sebelumnya akan dapat membantu auditor dalam memahami pengaruh kejadian dan keputusan penting terhadap laporan keuangan klien, dari pada dengan data industri karena adanya karakteristik tertentu pada perusahaan klien. Sebagai pedoman dalam analisa data adalah mengindentifikasi fluktuasi yang tidak diharapkan atau tidak adanya fluktuasi yang diharapkan yang merupakan indikasi atau tanda-tanda semakin besarnya risiko salah saji. Hal yang paling sulit dalam tahap analisa adalah menentukan besarnya perbedaan atau fluktuasi yang memerlukan tindakan investigasi lebih lanjut. Dalam penentuan besarnya perbedaan atau fluktuasi ada yang menggunakan model statistik, namun ada pula yang menggunakan rumus-rumus sederhana misalnya perbedaan yang melebihi : (1) jumlah rupiah tertentu yang telah ditetapkan; (2) suatu persentase tertentu; (3) kombinasi antara keduanya (jumlah rupiah dan persentase).

Investigasi Perbedaan yang Tidak Diharapkan. Adanya perbedaan atau fluktuasi yang tidak diharapkan atau yang luar biasa diinvestigasi dengan mempertimbangkan kembali metode dan faktor yang digunakan dalam mengembangkan harapan, dan wawancara dengan manajemen. Kadang-kadang informasi baru akan mendukung perlunya revisi terhadap harapan yang telah dibuat. Jika penjelasan mengenai perbedaan tersebut tidak diperoleh, auditor harus menentukan pengaruhnya terhadap perencanaan auditnya.

Menentukan Pengaruhnya Terhadap Rencana Audit. Adanya perbedaan yang penting yang tidak dapat dijelaskan merupakan indikasi meningkatnya risiko salah saji dalam satu atau beberapa akun yang masuk dalam perhitungan atau perbandingan. Dalam beberapa hal, auditor biasanya merencanakan untuk melakukan pengujian lebih rinci terhadap akun-akun tersebut. Dengan perhatian auditor langsung pada daerah yang risikonya lebih besar, berarti prosedur analitis dapat pelaksanaan audit yang lebih efektif dan efisien.

Manfaat Prosedur Analitis dan Permasalahannya

Libby menemukan bahwa berdasarkan pengalaman akuntan mengidentifikasi dari kemungkinan besar terjadinya kesalahan ditemukan melalui fluktuasi data laporan keuangan dalam proses penelaahan analitis.[1]

Penelitian Biggs et al memberikan fakta bahwa manajer kantor akuntan publik dan akuntan senior mampu mengidentifikasi problem pemeriksaan yang krusial, tetapi manajer kantor akuntan publik memiliki kemampuan yang lebih tinggi dari akuntan senior dalam mengidentifikasi kekeliruan dan hubungan yang kompleks di antara bukti penelaahan analitis dan perubahan programan pemeriksaan.[2]

Cohen dan Kida lebih lanjut menguraikan hasil penelitiannya terhadap sample 96 akuntan The Big Eight, bahwa penelaahan analitis memberikan efek sangat besar atas pertimbangan manajer dibandingkan terhadap pertimbangan akuntan senior. Juga kebanyakan akuntan enggan mengurangi pengujian walaupun hasil penelaahan analitis mengisyaratkan tidak ada problem pemeriksaan yang memerlukan perhatian khusus. Mereka juga menemukan fakta bahwa prosedur penelaahan analitis merupakan variabel yang paling signifikan bagi manajer dan manajer lebih berpengalaman menggunakan prosedur penelaahan analitis dibandingkan dengan akuntan senior. Akuntan senior lebih sering mengadakan evaluasi pengawasan (pengendalian) intern, karena realibilitas pengawasan intern merupakan variabel yang paling signifikan baginya.3

Demikian juga penelitian yang dilakukan oleh Heiman terhadap akuntan dari dua kantor akuntan publik The Big Eigth, menyatakan bahwa secara keseluruhan hasil penelitian ini dapat dijadikan petunjuk untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pemeriksaan melalui penerapan prosedur analitis. Prosedur analitis dianggap sebagai suatu proses diagnostik, meliputi evaluasi atas hipotesis yang dibuat atas terjadinya perubahan-perubahan yang tidak biasa pada laporan keuangan klien, informasi ini sangat diperlukan akuntan.4 Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Wilson dan Colbert mengungkapkan bahwa prosedur analitis meliputi perbandingan jumlah yang tercatat di dalam laporan keuangan dengan jumlah yang diharapkan oleh akuntan. Perbandingan ini membantu akuntan dalam mengambil keputusan yang cukup beralasan atas jumlah-jumlah yang ditunjukkan dalam laporan keuangan. Hasil penelitian ini menganjurkan penggunaan model keputusan yang lebih tepat untuk memungkinkan penyajian jumlah yang diharapkan lebih teliti dan keputusan akuntan lebih efisien.5

Anjuran ini sejalan dengan kesimpulan penelitian Wild dan Biggs, bahwa metode prosedur analitis menghasilkan penaksiran jumlah yang lebih akurat dan lebih dapat dipercaya, serta risiko pemeriksaanpun dapat dikurangi.6 Walaupun masih terdapat kontroversi yang berpusat kepada penerapan prosedur analitis, karena masih ada data atau informasi keuangan setelah tanggal neraca. Tetapi terdapat beberapa argumentasi mengapa digunakan data nilai buku sebagai dasar pembuatan prosedur analitis, antara lain disebabkan bertambahnya risiko pemeriksaan dan pelanggaran independensi pemeriksaan akuntan. Selain itu juga, temuan utama dari Knechel menyatakan bahwa (1) penggunaan informasi saldo bulanan perkiraan laporan keuangan dalam penelaahan kritis lebih efektif dibandingkan dengan menggunakan saldo tahunan saja selama keandalan sistem akuntansi klien masih dalam taraf minimal, dan (2) penelaahan analitis non statistik digabungkan dengan sampling unit moneter ($) relatif dapat menambah efektivitas pemeriksaan dibandingkan dengan strategi pemeriksaan yang tidak menggunakan penelaahan kritis.7 Kemudian penelitian Coglitore dan Berryman memaparkan hasil, bahwa prosedur analitis lebih efektif dalam mendeteksi informasi keuangan material yang menyesatkan (misleading). Aplikasi prosedur analitis dalam penyusunan rencana pemeriksaan akan membantu untuk mendeteksi penghasilan yang terlalu tinggi (overstatement), piutang dagang dan penjulan fiktif, penyisihan piutang ragu-ragu, utang dagang yang tidak tercatat, dan utang biaya komisi yang terlalu rendah/kurang saji (understatement).8

Penutup

Prosedur analitis merupakan upaya yang harus ditempuh oleh auditor dalam melakukan pelaksanaan dan perencanaan auditnya atas suatu klien. Prosedur ini didasarkan pada pertimbangan profesi dan keaadaan. Prosedur analitis yang tepat akan dapat membuktikan ketelitian pembukuan dan kelayakan penyajian laporan keuangan. Melalui prosedur analitis dapat identifikasi beberapa penyimpangan yang terjadi dalam laporan keuangan klien, seperti salah saji yang terlalu besar atau salah yang terlalu rendah.

Prosedur analitis dapat digunakan untuk (1)mengevaluasi sistem pengendalian intern , dan(2) meningkatkan efisiensi dan efektivitas pemeriksaan, serta menghasilkan penaksiran jumlah yang lebih akurat dan lebih dapat dipercaya, serta dapat mengurangi risiko pemeriksaan.

Dalam pelaksanaannya agar dapat diperoleh hasil yang cukup memuaskan, prosedur analitis dilakukan terhadap informasi saldo bulanan dari akun laporan keuangan, dan digabungkan dengan audit sampling moneter.

DAFTAR PUSTAKA

1. Arens, Alvin A, James K. Loebbecke. Auditing : An Integrated Approach. Fifth Edition. Englewood Cliffs : Prentice Hall, 1991.

2. Biggs, Stanley F.et al., “Auditor ‘s User of Analytical Review in Auditing Program Design”, The Accounting Review, Vol. LXIII, No. 1 (Florida : AAA, January 1988). pp. 149 – 159.

3. Kell, Walter, William C. Boynton. Modern Auditing. Sixth Edition. New York : John Wiley & Sons, 1996.

4. Coglitore, Frank dan R. Glen Berryman,”Analytical Procedures : A Defensive Necessity”,Auditing : A Journal of Practice and Theory, Vol. 7. No. 2 (New York : AAA, Spring 1988). pp. 150.

5. Cohen, Jeffrey dan Thomas Kida.,”The Impact of Analytical Review Results, Internal Control Realibility, and Experience on Auditing User of Analytical Review”, Journal Accounting Research, Vol. 27, No. 2, Autumn, 1989.pp. 264 – 275.

6. Heiman, Vicky B.,”Auditor’s Assessment of The Likehood of Error Explanations in Analytical Review”,The Accounting Review, Vol. 65, No. 4, October 1990, pp. 875 – 890.

7. Knechel. Robert,”Effectiveness of Non Statistical Analytical Review Procedures Used as a Substantive Audit Tests”, Auditing : A Journal of Practice and Theory, Vol. 8. No. 1 (New York : AAA, Fall 1988). pp. 87 – 106.

8. Libby, Robert., Availability and The Generation of Hypotheses in Analytical Review, Journal Accounting Research Vol 23, No. 2. (Chicago : The Institute of Profesional Accounting Graduate School of Bussiness University of Chicago, Autumn, 1985). pp. 663 – 664.

9. Wild, J.J. dan S.F Biggs,” Strategic Considerations for Audited Account Values in Analytical Review”, The Accounting Review, Vol. 65, No. 1 (Florida : AAA, January 1990). pp. 228 – 240.

10. Wilson, Arlette C. dan Janet Colbert,”An Analysis of Simple and Rigorous Decision Models as Analytical Procedures”, Accounting Horizons, (Florida : AAA, December 1989) . pp. 79 – 83.

11. Arens, Alvin A, James K. Loebbecke. Auditing : An Integrated Approach. Fifth Edition. Englewood Cliffs : Prentice Hall, 1991.

12. Biggs, Stanley F.et al., “Auditor ‘s User of Analytical Review in Auditing Program Design”, The Accounting Review, Vol. LXIII, No. 1 (Florida : AAA, January 1988). pp. 149 – 159.

13. Kell, Walter, William C. Boynton. Modern Auditing. Sixth Edition. New York : John Wiley & Sons, 1996.

14. Coglitore, Frank dan R. Glen Berryman,”Analytical Procedures : A Defensive Necessity”,Auditing : A Journal of Practice and Theory, Vol. 7. No. 2 (New York : AAA, Spring 1988). pp. 150.

15. Cohen, Jeffrey dan Thomas Kida.,”The Impact of Analytical Review Results, Internal Control Realibility, and Experience on Auditing User of Analytical Review”, Journal Accounting Research, Vol. 27, No. 2, Autumn, 1989.pp. 264 – 275.

16. Heiman, Vicky B.,”Auditor’s Assessment of The Likehood of Error Explanations in Analytical Review”,The Accounting Review, Vol. 65, No. 4, October 1990, pp. 875 – 890.

17. Knechel. Robert,”Effectiveness of Non Statistical Analytical Review Procedures Used as a Substantive Audit Tests”, Auditing : A Journal of Practice and Theory, Vol. 8. No. 1 (New York : AAA, Fall 1988). pp. 87 – 106.

18. Libby, Robert., Availability and The Generation of Hypotheses in Analytical Review, Journal Accounting Research Vol 23, No. 2. (Chicago : The Institute of Profesional Accounting Graduate School of Bussiness University of Chicago, Autumn, 1985). pp. 663 – 664.

19. Wild, J.J. dan S.F Biggs,” Strategic Considerations for Audited Account Values in Analytical Review”, The Accounting Review, Vol. 65, No. 1 (Florida : AAA, January 1990). pp. 228 – 240.

20. Wilson, Arlette C. dan Janet Colbert,”An Analysis of Simple and Rigorous Decision Models as Analytical Procedures”, Accounting Horizons, (Florida : AAA, December 1989) . pp. 79 – 83.


[1] Robert Libby., Availability and The Generation of Hypotheses in Analytical Review, Journal Accounting Research Vol 23, No. 2. (Chicago : The Institute of Profesional Accounting Graduate School of Bussiness University of Chicago, Autumn, 1985) pp. 663 – 664.

[2] Stanley F. Biggs .et al., “Auditor ‘s User of Analytical Review in Auditing Program Design”, The Accounting Review, Vol. LXIII, No. 1 (Florida : AAA, January 1988) pp. 149 – 159.

3 Jeffrey Cohen dan Thomas Kida.,”The Impact of Analytical Review Results, Internal Control Realibility, and Experience on Auditing User of Analytical Review”, Journal Accounting Research, Vol. 27, No. 2, Autumn, 1989.pp. 264 – 275.

4 Vicky B. Heiman,”Auditor’s Assessment of The Likehood of Error Explanations in Analytical Review”,The Accounting Review, Vol. 65, No. 4, October 1990, pp. 875 – 890.

5 Arlette C. Wilson dan Janet Colbert,”An Analysis of Simple and Rigorous Decision Models as Analytical Procedures”, Accounting Horizons, December 1989. pp. 79 – 83. (Florida : AAA)

6 J.J. Wild dan S.F Biggs,” Strategic Considerations for Audited Account Values in Analytical Review”, The Accounting Review, Vol. 65, No. 1 (Florida : AAA, January 1990). pp. 228 – 240.

7 W. Robert Knechel,”Effectiveness of Non Statistical Analytical Review Procedures Used as a Substantive Audit Tests”, Auditing : A Journal of Practice and Theory, Vol. 8. No. 1 (New York : AAA, Fall 1988). pp. 87 – 106.

8 Frank Coglitore dan R. Glen Berryman,”Analytical Procedures : A Defensive Necessity”, Auditing : A Journal of Practice and Theory, Vol. 7. No. 2 (New York : AAA, Spring 1988). pp. 150.


[1] Robert Libby., Availability and The Generation of Hypotheses in Analytical Review, Journal Accounting Research Vol 23, No. 2. (Chicago : The Institute of Profesional Accounting Graduate School of Bussiness University of Chicago, Autumn, 1985) pp. 663 – 664.

[2] Stanley F. Biggs .et al., “Auditor ‘s User of Analytical Review in Auditing Program Design”, The Accounting Review, Vol. LXIII, No. 1 (Florida : AAA, January 1988) pp. 149 – 159.

3 Jeffrey Cohen dan Thomas Kida.,”The Impact of Analytical Review Results, Internal Control Realibility, and Experience on Auditing User of Analytical Review”, Journal Accounting Research, Vol. 27, No. 2, Autumn, 1989.pp. 264 – 275.

4 Vicky B. Heiman,”Auditor’s Assessment of The Likehood of Error Explanations in Analytical Review”,The Accounting Review, Vol. 65, No. 4, October 1990, pp. 875 – 890.

5 Arlette C. Wilson dan Janet Colbert,”An Analysis of Simple and Rigorous Decision Models as Analytical Procedures”, Accounting Horizons, December 1989. pp. 79 – 83. (Florida : AAA)

6 J.J. Wild dan S.F Biggs,” Strategic Considerations for Audited Account Values in Analytical Review”, The Accounting Review, Vol. 65, No. 1 (Florida : AAA, January 1990). pp. 228 – 240.

7 W. Robert Knechel,”Effectiveness of Non Statistical Analytical Review Procedures Used as a Substantive Audit Tests”, Auditing : A Journal of Practice and Theory, Vol. 8. No. 1 (New York : AAA, Fall 1988). pp. 87 – 106.

8 Frank Coglitore dan R. Glen Berryman,”Analytical Procedures : A Defensive Necessity”, Auditing : A Journal of Practice and Theory, Vol. 7. No. 2 (New York : AAA, Spring 1988). pp. 150.

~ by dikdiksalehsadikin on January 28, 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: